ANALISIS

Iran Dikeroyok AS-Israel, Kenapa Arab Cs Malah Dukung Paman Trump?

Anisa Dewi Anggriaeni | CNN Indonesia
Rabu, 04 Mar 2026 08:00 WIB
Ketika Amerika-Israel melancarkan serangan bertubi-tubi ke Iran, negara-negara Arab malah cenderung berpihak kepada Washington bahkan mengecam Teheran. Kenapa?
Gulf Cooperation Council. (Foto: AFP/Fayez Nureldine)

Apakah perang meluas dan molor?

Meski mendeklarasikan hak untuk membela diri dari serangan Iran, Sya'roni menilai negara-negara Arab tak akan meluncurkan serangan ofensif ke Teheran yang bisa memperparah dan memperpanjang konflik di kawasan.

Saudi Cs, lanjut dia, akan cenderung hati-hati, dan lebih memilih jalur diplomasi atau dialog politik. Mereka juga tak merasa wajib turun tangan menggempur Iran.

"Perang saat ini adalah perangnya AS-Israel, tidak ada urgensi bagi negara Arab untuk turun di medan perang, sehingga ada kecenderungan negara-negara Arab mulai membangun kerjasama pertahanan dengan aktor yang berbeda," ungkap Sya'roni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, melihat serangan balasan Iran yang besar-besaran, konflik kemungkinan tak akan selesai dalam waktu singkat, begitu pandangan Yon soal durasi perang.

"Kalau kita lihat respons yang dilakukan Iran membalas dengan kekuatan penuh, maka perang ini tidak selesai dalam hitungan hari tapi mungkin dalam hitungan beberapa minggu ke depan," ujar dia.

"Dan itu di luar prediksi AS dan Israel," imbuh Yon.

AS dan Israel mengira setelah Khamenei tewas, Iran akan menyerah, dan rakyat bakal bergabung bersama mereka dengan merebut kekuasaan. Penilaian itu cuma terang di atas kertas, suram di lapangan.

Iran meluncurkan serangan balasan dan menargetkan 27 pangkalan militer AS di Timur Tengah. Pasukan Garda Revolusi Islam juga menggempur aset militer Israel seperti Markas Besar Pasukan Pertahanan hingga gedung Microsoft di Be'er Sheva.

Iran bahkan menegaskan siap perang berkepanjangan dan tak akan memberi ampun pelaku agresi.

Perlawanan masif itu membuat Trump mengajukan tawaran untuk negosiasi, yang ditolak oleh Iran. Di sisi lain, Netanyahu juga menyadari negara tetangganya itu sulit dikalahkan.

Meski demikian, Yon menilai perang kemungkinan bisa berakhir jika Iran bersikap kooperatif dan mau bernegosiasi dengan AS. Trump berulang kali menyerukan ingin menghancurkan nuklir mereka dan pergantian rezim di negara Timur Tengah itu.

Trump bahkan mengatakan akan meluncurkan serangan lebih masif sampai rezim di Iran betul-betul berubah. Dalam arti yang sederhana, negara itu bisa dikendalikan dan dikuasai sumber daya alamnya bak Venezuela.

Selain memiliki program nuklir yang dianggap AS berbahaya-padahal bagi Teheran untuk tujuan damai- Iran juga menjadi pemilik cadangan minyak terbesar ketiga di dunia. Produksi per hari bisa mencapai 3,3 juta sampai 4 juta barel.

AS di bawah pimpinan Trump ingin melenyapkan ancaman di seluruh kawasan. Bagi mereka, Iran adalah negara yang perlu diwaspadai.

"Pendekatan pragmatisnya adalah menyesuaikan tuntutan-tuntutan mereka, yang pada intinya wilayah kawasan Timur Tengah harus US-friendly. Tidak boleh ada poros perlawanan, semua harus mengarah ke normalisasi atau kerja sama terutama juga dengan Israel," demikian kata Yon.

"Intinya siapapun rezimnya yang penting US-friendly akan bisa diakomodasi. Persoalannya apakah Iran akan melakukan itu?" imbuh dia.

Bagaimanapun, perang tak boleh berlangsung lama karena bisa memicu krisis global baru di masa depan.

Bagaimana seharusnya negara-negara Arab bersikap?

Negara-negara Arab sebetulnya punya peran signifikan untuk menghentikan perang, demikian pandangan Sya'roni.

Mereka bisa menggunakan mekanisme Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), atau Dewan Kerja Sama Teluk untuk menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap situasi ini.

"Termasuk lebih spesifik negara GCC meminta Trump untuk mengakhiri serangan. Jika negara GCC satu suara saya kira Trump akan pertimbangkan," kata dia.

(rds)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2