Pada 2019 lalu, Netanyahu didakwa atas sejumlah tuduhan. Tuduhan itu adalah penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan.
Sidang korupsi Netanyahu dimulai pada 2020 mencakup tiga kasus, yakni kasus 1000, 2000, dan 4000.
Tiga kasus korupsi
Dilansir the Independent, Netanyahu dituduh menerima berbagai hadiah mahal dari miliarder, termasuk James Packer dan Arnon Milchan.
Jaksa menyebut hadiah itu meliputi sampanye senilai sekitar US$195.000 (sekitar Rp3,337 miliar), serta perhiasan untuk istrinya senilai sekitar US$3.100 (sekitar Rp53 juta).
Sebagai balasan, Netanyahu diduga memberikan bantuan politik, termasuk mendorong kebijakan yang menguntungkan Milchan.
Ia juga dilaporkan telah meminta John Kerry saat menjabat Menteri Luar Negeri AS untuk membantu Milchan mendapatkan visa ke Negara Paman Sam.
Kedua, Netanyahu diduga bernegosiasi dengan pemilik surat kabar Israel, Arnon Mozes, yang mengendalikan surat kabar Yedioth Ahronoth.
Ia dituduh menawarkan pembatasan terhadap media pesaing sebagai imbalan atas pemberitaan yang lebih menguntungkan dirinya.
Ketiga, dugaan kasus paling serius, dimana Netanyahu diduga memberikan perlakuan istimewa dalam regulasi kepada perusahaan telekomunikasi Israel, Bezeq.
Sebagai imbalannya, ia disebut memperoleh pemberitaan positif dari situs berita Walla yang dimiliki pihak terkait perusahaan tersebut.
Mengutip dari Reuters, insentif atau nilai keuntungan yang didapatkan Netanyahu dalam kasus ini diperkirakan mencapai sekitar US$500 juta (sekitar Rp8,5 triliun).
Bersambung ke halaman berikutnya...
Sejak sidang dimulai pada 2020, Netanyahu terus meminta penundaan. Ia bahkan mengajukan permintaan resmi untuk dibebaskan dari dakwaan korupsi yang ia sangkal kepada Presiden Israel Isaac Herzog.
Pada Oktober 2025, Netanyahu muncul di Pengadilan Distrik Tel Aviv untuk bersaksi dalam persidangan kasus korupsinya.
Sidang Netanyahu sebelumnya ditangguhkan selama sebulan karena hari libur Yahudi dan perjalanannya ke New York untuk menghadiri sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sidang Netanyahu sendiri pada akhirnya selesai lebih cepat karena Netanyahu berdalih sedang sakit.
Hakim mengabulkan permintaannya untuk mempersingkat sidang setelah Netanyahu mengeluh batuk dan pilek.
Sidang kasus korupsi Netanyahu akan dilanjutkan hari Minggu (12/4) mendatang. Sidang ini telah berlangsung lama namun belum juga menemui akhir.
Dilansir dari Aljazeera, juru bicara pengadilan menyatakan hal ini beberapa jam setelah Israel mencabut keadaan darurat yang diberlakukan terkait perang Iran.
"Dengan dicabutnya keadaan darurat dan kembalinya sistem peradilan untuk bekerja, sidang akan dilanjutkan seperti biasa," demikian pernyataan pengadilan Israel.
Sidang dugaan korupsi Netanyahu ditunda
Sementara itu, Iran mengungkap dugaan motif tersembunyi Netanyahu yang berambisi menggagalkan gencatan senjata antara Teheran dan AS dengan terus membombardir Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Netanyahu memiliki motif tersembunyi untuk terus melanjutkan perang bak pengalihan isu dari kasusnya itu.
"Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya," tulis Araghchi di media sosial, Jumat (10/4).
Araghchi mengatakan akan menjadi "kebodohan" bagi AS jika membiarkan Israel merusak kesepakatan gencatan senjata dengan terus melancarkan serangan intens di Lebanon.
Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon demi menargetkan milisi Hizbullah. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas dari 2 Maret hingga 9 April telah mencapai sekitar 1.888 orang tewas dan 6.092 lainnya terluka.
Sementara itu, sejak 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sebanyak 3.597 orang tewas menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA).
Teheran mengeklaim Lebanon termasuk wilayah yang masuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS-Iran pada Selasa (7/4). Lebanon merupakan sekutu Iran yang juga membantu Teheran melancarkan serangan ke Israel.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai mediator juga telah mengonfirmasi hal tersebut.
"Jika AS ingin meruntuhkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu pada akhirnya adalah pilihannya. Kami menilai itu bodoh, tetapi kami siap menghadapinya," ujar Sharif.