Kasus Korupsi Rp8,5 T, 'Motif' bagi Netanyahu Perangi Gaza-Iran
Sejak sidang dimulai pada 2020, Netanyahu terus meminta penundaan. Ia bahkan mengajukan permintaan resmi untuk dibebaskan dari dakwaan korupsi yang ia sangkal kepada Presiden Israel Isaac Herzog.
Pada Oktober 2025, Netanyahu muncul di Pengadilan Distrik Tel Aviv untuk bersaksi dalam persidangan kasus korupsinya.
Sidang Netanyahu sebelumnya ditangguhkan selama sebulan karena hari libur Yahudi dan perjalanannya ke New York untuk menghadiri sidang ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sidang Netanyahu sendiri pada akhirnya selesai lebih cepat karena Netanyahu berdalih sedang sakit.
Hakim mengabulkan permintaannya untuk mempersingkat sidang setelah Netanyahu mengeluh batuk dan pilek.
Sidang kasus korupsi Netanyahu akan dilanjutkan hari Minggu (12/4) mendatang. Sidang ini telah berlangsung lama namun belum juga menemui akhir.
Dilansir dari Aljazeera, juru bicara pengadilan menyatakan hal ini beberapa jam setelah Israel mencabut keadaan darurat yang diberlakukan terkait perang Iran.
"Dengan dicabutnya keadaan darurat dan kembalinya sistem peradilan untuk bekerja, sidang akan dilanjutkan seperti biasa," demikian pernyataan pengadilan Israel.
Sidang dugaan korupsi Netanyahu ditunda
Sementara itu, Iran mengungkap dugaan motif tersembunyi Netanyahu yang berambisi menggagalkan gencatan senjata antara Teheran dan AS dengan terus membombardir Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, Netanyahu memiliki motif tersembunyi untuk terus melanjutkan perang bak pengalihan isu dari kasusnya itu.
"Gencatan senjata di seluruh kawasan, termasuk di Lebanon, akan mempercepat pemenjaraannya," tulis Araghchi di media sosial, Jumat (10/4).
Araghchi mengatakan akan menjadi "kebodohan" bagi AS jika membiarkan Israel merusak kesepakatan gencatan senjata dengan terus melancarkan serangan intens di Lebanon.
Netanyahu bikin perang di Gaza-Iran
Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon demi menargetkan milisi Hizbullah. Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas dari 2 Maret hingga 9 April telah mencapai sekitar 1.888 orang tewas dan 6.092 lainnya terluka.
Sementara itu, sejak 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sebanyak 3.597 orang tewas menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA).
Teheran mengeklaim Lebanon termasuk wilayah yang masuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS-Iran pada Selasa (7/4). Lebanon merupakan sekutu Iran yang juga membantu Teheran melancarkan serangan ke Israel.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif sebagai mediator juga telah mengonfirmasi hal tersebut.
"Jika AS ingin meruntuhkan ekonominya sendiri dengan membiarkan Netanyahu membunuh diplomasi, itu pada akhirnya adalah pilihannya. Kami menilai itu bodoh, tetapi kami siap menghadapinya," ujar Sharif.
(rnp/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]

