Ambisi Culas Israel Rampas Al Aqsa Kini Dibantu AS, Bagaimana PBB-OKI?
Meski jemaah hanya datang untuk salat dan berdoa, namun aparat Israel selalu memiliki kecurigaan berlebih. Dikutip dari Jerussalempost, terletak di Kota Tua Yerusalem timur, kompleks Masjid Al-Aqsa, yang dikenal oleh umat Muslim sebagai Haram al-Sharif (Tempat Suci yang Mulia) dan oleh umat Yahudi sebagai Bukit Bait Suci, merupakan pusat pengabdian keagamaan dan identitas nasional.
Bagi umat Muslim, tempat ini adalah situs tersuci ketiga dalam Islam, sementara umat Yahudi menghormatinya sebagai lokasi dua kuil Yahudi kuno, menjadikannya situs tersuci dalam Yudaisme.
Namun kompleks ini telah dikelola sebagai wakaf, yaitu properti yang diperuntukkan bagi tujuan keagamaan atau amal Muslim, sejak Salahuddin merebut kembali Yerusalem dari Tentara Salib pada tahun 1187. Kompleks ini telah dikelola oleh Departemen Urusan Wakaf Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa yang ditunjuk oleh Yordania sejak tahun 1948.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengaturan ini berlanjut bahkan setelah Israel menaklukkan dan mencaplok Yerusalem timur pada tahun 1967, dan Israel mengontrol akses ke kompleks tersebut.
Karena itu, Israel kini tidak saja ingin mengontrol masjid ini dengan cara membatasi dan melarang jemaah memasukinya, tapi juga berniat menguasainya. Sebab bagi orang Yahudi, seperti dilansir dari Middle East Eye, penaklukan Al Aqsa yang mereka sebut Temple Mount sebagai simbol besar, yaitu tanda akhir zaman seperti dinubuatkan dalam kitab suci mereka.
Artinya, dengan merebut Al Aqsa dari tangan kaum muslimin, maka kaum Yahudi sama dengan mendeklarasikan kemenangan.
Bagi mereka, Temple Mount adalah situs tersuci dalam Yudaisme (agama Yahudi). Mereka meyakini pada zaman Romawi kuno, ada dua kuil yang menjadi pusat kerajaan Yahudi di situs tersebut. Masjid al Aqsa yang dibangun di era kejayaan Islam diyakini kaum Yahudi berada di atas peninggalan kuil suci mereka.
Satu-satunya bagian yang tersisa dari The Second Temple, adalah Tembok Barat, yang menjadi tempat suci orang Yahudi untuk berdoa.
Atas dasar keyakinan itulah, bagi warga Yahudi, ada kepercayaan bahwa beribadah di dalam Temple Mount dan membangun kembali Kuil Ketiga di situs tersebut, sebagai tanda turunnya Mesias dan Hari Penghakiman.
Kemudian ada Kelompok Temple Movement, yang menganjurkan penghancuran Al-Aqsa dan menyerukan penyerbuan massal. Kelompok-kelompok garis keras Israel, berkoordinasi dengan pihak berwenang, telah lama melanggar kesepakatan yang rumit ini dan memfasilitasi penggerebekan situs tersebut serta melakukan doa dan ritual keagamaan.
Kelompok ultranasionalis Yahudi juga menawarkan hadiah uang tunai kepada siapa pun yang mengorbankan seekor kambing di dalam Al-Aqsa - sebuah tindakan terlarang dan sangat provokatif.
Sejak 2003, polisi Israel secara sepihak mengizinkan kelompok ekstremis Israel memasuki kompleks masjid, meski Departemen Wakaf Islam berulang kali menuntut penghentian tindakan itu.
Tidak heran media The New Arab menyebut kompleks Masjid al Aqsa sebagai "wilayah yang paling diperebutkan di dunia."
Banyak aspek sejarah situs ini, signifikansi keagamaan, dan status sosial-politiknya telah ada jauh sebelum berdirinya Israel dan terkait erat dengan status quo historis keseluruhan Kota Tua Yerusalem itu sendiri.
Pada tahun 1917, setelah mengalahkan Kekaisaran Ottoman, tentara Inggris menguasai Yerusalem. Setibanya di Gerbang Jaffa di Kota Tua, Jenderal Allenby turun dari kudanya dan masuk dengan berjalan kaki, yang saat itu dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap situs kuno tersebut. Hal itu menandakan bahwa otoritas Inggris bermaksud untuk mempertahankan status quo yang dipertahankan oleh Ottoman di kota itu selama empat ratus tahun.
Namun penguasaan Israel atas Yerusalem Timur yang diduduki, termasuk Kota Tua, telah melanggar beberapa prinsip hukum internasional yang menetapkan bahwa kekuatan pendudukan tidak memiliki kedaulatan di wilayah yang didudukinya dan tidak dapat melakukan perubahan permanen di sana.
"Israel tidak mau belajar dari sejarah, bahwa Al-Aqsa adalah untuk Palestina dan untuk semua orang Arab dan Muslim, dan bahwa penyerbuan ke sana memicu revolusi melawan pendudukan," kata mantan Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh.
Padahal, kedatangan jamaah ke masjid Al Aqsa hanya untuk sembahyang dan berdoa. Tidak pernah ada aksi kekerasan di dalam kompleks masjid itu, kecuali provokasi yang datang dari pihak Israel sendiri. Tahun lalu, laman media online Israel timeofisrael.com, menuliskan judul berita: "90.000 Umat Muslim Laksanakan Salat dengan Tenang Di Masjid Al-Aqsa pada Jumat Pertama Ramadan". Isi berita menggambarkan kekhusuyukan umat Islam Palestina selama ramadan.
Situs ini juga menuliskan terjadinya bentrokan pada 2021 antara polisi Israel dan "umat Muslim yang taat di atas Bukit Bait Suci". Narasi "umat Muslim yang taat" untuk menggambarkan kondisi Islam Palestina yang sebenarnya hanya datang berdoa lalu pulang secara tertib.
Resolusi PBB tak dipatuhi
Meski Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah mengeluarkan puluhan resolusi terkait Kompleks Al Aqsa, namun tak pernah dipatuhi oleh otoritass Israel.
Dewan Keamanan PBB tercatat pernah mengeluarkan Resolusi 271 (1969) yang secara khusus merespons insiden pembakaran kompleks Masjid Al-Aqsa. Resolusi ini mengecam keras Israel dan menuntut mereka mematuhi resolusi terkait status Yerusalem.
Kemudian Sidang Umum PBB dan Komite Khusus dalam berbagai dokumen dan laporan periodik, menyebut ada sekitar 88 resolusi yang sering dirujuk oleh berbagai lembaga kemanusiaan yang membahas perlindungan hak-hak warga Palestina di Yerusalem Timur dan menentang perubahan status quo Al-Aqsa.
Dan yang tak kalah penting, badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan (UNESCO) pada Oktober 2016 telah mengesahkan Resolusi 200 COM/25, yang menegaskan bahwa Kompleks Masjid Al-Aqsa adalah situs warisan budaya Islam dan mengecam tindakan pembatasan yang dilakukan oleh otoritas Israel di area tersebut.
Pada 2021 Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) mengutuk serangan terhadap Masjid Al-Aqsa oleh kelompok pemukim ekstremis dan pasukan pendudukan Israel, menekankan bahwa serangan berulang terhadap kesucian tempat-tempat suci ini merupakan bagian dari upaya Israel, kekuatan pendudukan, untuk mengubah status quo historis dan hukum di Al-Quds, yang melanggar hukum internasional, Konvensi Jenewa, dan resolusi PBB.
Organisasi Kerja Sama Islam ini juga menyatakan pemerintah pendudukan Israel sepenuhnya bertanggung jawab atas konsekuensi dari berlanjutnya serangan sistematis tersebut.
Pada saat yang sama, OKI menyerukan kepada komunitas internasional, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk memikul tanggung jawabnya dalam mengakhiri pelanggaran-pelanggaran ini dan meluncurkan proses politik untuk mencapai solusi damai dan pembentukan negara Palestina merdeka dengan Al-Quds sebagai ibu kotanya, berdasarkan Resolusi PBB yang relevan dan Inisiatif Perdamaian Arab.
"Hingga saat ini, lembaga internasional seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI) terus mendesak komunitas global dan Dewan Keamanan PBB untuk memastikan Resolusi PBB diindahkan agar status legal dan historis Al-Aqsa tetap terjaga," demikian PBB dalam pernyataan resminya. Namun sayang, pernyataan itu hanya tegas di atas kertas.
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


