ANALISIS

AS-Iran Teken MoU, Ini Alasan Teheran 'Menang Banyak' atas Washington

CNN Indonesia
Jumat, 19 Jun 2026 16:08 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani MoU damai dengan AS. (AFP/HANDOUT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Harapan perdamaian di Timur Tengah mulai berembus usai Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang bisa mengarah ke penghentian perang.

MoU itu ditandatangani di lokasi yang berbeda. Presiden AS Donald Trump meneken dokumen tersebut saat makan malam bersama Presiden Emmanuel Macron di Prancis, di sela pertemuan puncak G7.

"Ini tidak mudah," kata Trump sebelum membubuhkan tanda tangan, Rabu (17/6).

Nada yang berbeda, terdengar lebih nyaring dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dia dan Trump menandatangani dokumen di lokasi masing-masing, tanpa saling jumpa.

"Teks ini merupakan cerminan suara suatu bangsa yang tak menukar kehormatan dan kemerdekaanya dengan cara apapun," kata dia di X pada Kamis.

Pernyataan dua kepala negara itu menjadi tanda-tanda yang mengarah bahwa Iran untung banyak.

Kondisi itu makin jelas usai Trump menerima banyak kritik tajam dari para pendukung AS dan Israel. Namun, dia menanggapinya dengan mencatut kondisi ekonomi.

"Orang-orang bodoh ini, yang menganggap saya belum cukup keras terhadap Iran, ketika pasar saham baru saja mencapai rekor tertinggi dan harga minyak 'jatuh', adalah mereka yang cemburu, orang jahat, atau bodoh," kata Trump di Truthsocial.

Gagal ganti rezim

Peneliti senior Iran di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Danny Citinowicz menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai bencana strategis bagi pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Rencana awal AS-Israel untuk mengganti rezim kini berbalik dengan pengakuan Washington terhadap Teheran.

"Kita berupaya menggulingkan rezim tersebut dengan dukungan AS, tetapi pada akhirnya Washington justru memberikan legitimasi dan memperkuat rezim yang sama yang ingin kita jatuhkan," kata Citrinowicz, dikutip Al Monitor.

Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei memang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari. Namun, penerus dia yang juga anaknya Mojtaba Khamenei menyerukan pembalasan yang masif dan kuat.

Naiknya Mojtaba juga menjadi bukti kekuasaan ulama Iran tak tergoyahkan dan punya sistem kepemimpinan yang tangguh.

Pengakuan AS atas Iran bisa ditelisik di poin kedua yang berisi bahwa Washington dan Teheran saling menghormati kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing.

"Serta menahan diri dari campur tangan dalam urusan internal masing-masing," lanjut poin tersebut.

Kesempatan AS dan Israel mengganti rezim pun kini sirna dengan terminologi tak intervensi urusan negara lain.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Iran Masih Bisa Punya Rudal


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :