Potensi Kabut Asap Parah Hantui ASEAN, Singapura-RI Waspada
Potensi kabut asap parah mengancam Asia Tenggara khususnya Singapura dan Indonesia paruh kedua tahun ini, akibat El Nino serta peningkatan deforestasi yang dipicu oleh permintaan biofuel.
Singapore Institute of International Affairs (SIIA) dalam laporannya seperti dikutip Straits Times, menyebut fenomena El Nino diperkirakan menciptakan musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kuat tahun ini.
Ini adalah kali kedua lembaga think-tank tersebut mengeluarkan peringatan merah. Lembaga itu pertama kali mengeluarkan peringatan pada 2023, saat Singapura mengalami kabut asap selama akhir pekan di bulan Oktober.
Para ilmuwan memperkirakan bahwa siklus ini bisa menjadi El Nino super, yang menempatkan tahun 2026 dan 2027 menjadi tahun-tahun yang sangat panas.
Pada saat yang sama, fenomena iklim lain yang disebut Indian Ocean Dipole positif diperkirakan akan berkembang pada bulan Juli dan Agustus. Indian Ocean Dipole mirip dengan El Nino, namun berkembang di Samudra Hindia khatulistiwa.
Menurut Badan Lingkungan Nasional dan ahli meteorologi Singapura, El Nino dan potensi Indian Ocean Dipole positif dapat memperpanjang dan mengintensifkan musim kemarau Singapura pada paruh kedua tahun ini.
Menurut situs web Pusat Meteorologi Khusus ASEAN, kondisi El Nino sudah ada di wilayah tersebut, dan diperkirakan akan menguat dari Agustus hingga September.
Kondisi yang lebih panas dan kering juga menyebabkan vegetasi, lahan gambut, dan perkebunan lebih mudah terbakar, dan kebakaran yang dimulai dari pembukaan lahan dan pembakaran sampah dapat menyebar lebih cepat.
Meski kondisi cuaca dapat memperburuk kebakaran dan kabut asap, akar penyebab bermuara pada bagaimana lahan pertanian dikelola, kesiapan menghadapi kebakaran, dan komitmen politik untuk mencegah kabut asap lintas batas.
"Kabut asap bukan hanya masalah lingkungan. Tantangannya adalah memastikan praktik berkelanjutan dipertahankan di seluruh rantai pasokan, termasuk oleh usaha kecil dan menengah yang mungkin beroperasi di bawah tekanan ekonomi yang lebih ketat," kata Simon Tay, ketua SIIA.
Selain Singapura, lembaga itu juga menyebut tahun 2026 akan menjadi musim kemarau berisiko tinggi pertama yang dihadapi pemerintahan Prabowo di Indonesia.
Lihat Juga : |
Lembaga itu menyoroti pada 2025, Prabowo meluncurkan sebuah unit antarlembaga baru untuk memperkuat respons terhadap kebakaran. Unit ini kemudian diaktifkan kembali pada pertengahan Juni 2026, jelang musim kemarau yang akan datang.
"Presiden Prabowo telah mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap sektor penggunaan lahan di negara ini, menyelidiki dugaan pelanggaran lingkungan oleh perusahaan dan memusatkan kendali ekspor komoditas. Meskipun hal ini membuat beberapa investor waspada, tata kelola yang lebih ketat dapat memberikan hasil positif untuk pencegahan kabut asap," kata laporan tersebut.
Laporan tersebut mencatat bahwa pemerintah, perusahaan, dan masyarakat akan diuji secara signifikan dalam pencegahan kebakaran dan pengelolaan lahan yang tepat di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan anggaran.