Kenapa Trump Mendadak Batalkan Deal Nuklir Saudi Kurang dari 24 Jam?
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak membatalkan kesepakatan pengayaan uranium dalam program nuklir Iran.
Trump membatalkan kesepakatan tersebut kurang dari 24 jam setelah diteken oleh perwakilan AS dan Saudi.
Menteri Energi dari dua negara yang mewakili penandatanganan tersebut. AS diwakili oleh Menteri Energi Chris Wright sebagai pejabat yang menandatangani kesepakatan itu.
Kedua menteri itu pun membubuhkan tanda tangan kesepakatan program pengayaan uranium. Penandatanganan itu pun dipublikasi secara luas.
Dua set bendera Amerika dan Saudi diletakkan di atas panggung dan di atas meja tempat Menteri Energi Chris Wright duduk. Sebuah layar besar menayangkan wajah Menteri Energi Saudi dari Riyadh. Setelah berbulan-bulan tertunda, perjanjian tersebut akhirnya ditandatangani.
Arab Saudi telah memenangkan sebagian besar daftar keinginan mereka dalam kesepakatan tersebut.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Trump marah atas pengumuman kesepakatan tersebut yang tidak diberitahukan Wright kepadanya bahwa hasil itu akan diumumkan.
Frustrasi Trump kemudian semakin parah, menurut sumber yang dikutip CNN, setelah serangkaian kritik dari para ahli dan media-media konservatif.
Ini termasuk liputan skeptis di saluran favoritnya, Fox News, dan di halaman editorial Wall Street Journal yang mempertanyakan kesepakatan itu dibuat tanpa didahului perjanjian normalisasi, sesuatu yang secara tegas dicatat oleh kedua media tersebut bahwa Presiden Joe Biden telah upayakan.
Kesepakatan yang telanjur diumumkan pada Kamis (23/7) itu pun dianggap berantakan.
Trump tiba-tiba 'merusak' kesepakatan tersebut. Ia mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa kesepakatan itu tunduk pada syarat baru: Arab Saudi harus bergabung dengan Perjanjian Abraham.
Itu merupakan sebuah inisiatif yang berasal dari pemerintahan pertama Trump yang menyebabkan beberapa negara Arab menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel. Trump juga membantah bahwa perjanjian itu akan mengizinkan pengayaan uranium.
Syarat baru tersebut justru mengejutkan para negosiator nuklir pemerintahan sendiri. Mereka menganggap syarat Perjanjian Abraham Accord tersebut tidak terduga, demikian menurut dua sumber yang diberi informasi tentang masalah ini kepada CNN.
Ketika kebingungan melanda, para pejabat Gedung Putih menyalahkan rekan-rekan mereka di Kementerian Energi, menurut salah satu sumber. Sumber itu sempat mengatakan bahwa Gedung Putih telah meminta Kementerian Energi untuk tidak merilis perjanjian tersebut pada Rabu.
Namun Wright, yang menurut para pejabat Gedung Putih di masa lalu terlalu gegabah, tetap melanjutkan, termasuk dalam sebuah wawancara di Fox Business.
(bac)