Di Sidang PBB, Raja Yordania Sebut Israel 'Ancaman Regional'

CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 22:00 WIB
Jordan's King Abdullah II addresses the 81st United Nations General Assembly at UN headquarters in New York City, US, September 22, 2026.  REUTERS/MIKE SEGAR
Pidato Raja Yordania Abdullah II di Sidang PBB. Foto: REUTERS/Mike Segar

Abdullah juga menolak anggapan bahwa negara-negara Arab tidak menginginkan perdamaian dengan Israel. Ia mengingatkan kembali Inisiatif Perdamaian Arab 2002 yang dipelopori Arab Saudi.

Dalam inisiatif tersebut, negara-negara Arab dan Muslim menawarkan normalisasi hubungan dengan Israel sebagai imbalan atas perdamaian dan pembentukan negara Palestina.

"Selama lebih dari 20 tahun, tawaran itu tetap berlaku; hambatannya bukanlah tidak adanya mitra perdamaian, tetapi tidak adanya pemerintah Israel yang bersedia menerimanya," kata Abdullah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia kemudian mengkritik pemerintah Israel karena dinilai berusaha mengalihkan perhatian dari kritik internasional.

"Pemerintah Israel ini memahami kekuatan perhatian. Dan belakangan ini, mereka tidak menyukai perhatian yang mereka dapatkan. Ketika dihadapkan dengan bukti kesalahan, alih-alih mengubah arah, mereka memilih untuk mengalihkan perhatian, mendiskreditkan para kritikusnya," ujarnya.

Menurut Abdullah, masyarakat internasional kini memiliki berbagai instrumen untuk menekan negara yang melanggar hukum internasional, termasuk sanksi, pembekuan aset, embargo, dan isolasi diplomatik.

Namun, ia menilai langkah tersebut belum diterapkan secara efektif terhadap Israel. "Resolusi berakhir di tempat mereka dimulai... di atas kertas," katanya.

Abdullah memperingatkan bahwa kondisi tersebut menciptakan situasi ketika pemerintah Israel merasa tidak memiliki kendali atau konsekuensi yang cukup atas tindakannya.

"Rasa kebal hukum pemerintah ini telah mencapai tingkat yang mengerikan. Pemerintah tidak lagi merasa perlu bertanya, 'Bisakah kita lolos begitu saja?' Mereka sudah tahu jawabannya," ujarnya.

Abdullah juga memperingatkan masyarakat internasional agar tidak menganggap ambisi Israel hanya terbatas pada wilayah Palestina. Ia menyebut kebijakan Israel sebagai ancaman bagi kawasan dan menyoroti perkembangan di Suriah sebagai salah satu contohnya.

"Saat ini, Suriah adalah peringatan yang dipilih oleh komunitas internasional untuk diabaikan. Selangkah demi selangkah, Israel sedang menguji seberapa jauh mereka dapat melangkah," kata Abdullah.

"Dan setiap kali komunitas internasional berpaling, Israel belajar bahwa mereka dapat melangkah lebih jauh lagi melintasi perbatasan dan batasan hukum," lanjutnya.

Abdullah mengatakan Yordania memahami risiko konflik yang terus meluas karena negara tersebut berada di kawasan yang menghadapi berbagai krisis secara beruntun.

"Jordan sangat memahami hal ini. Kami tahu apa artinya hidup di wilayah di mana satu krisis datang sebelum krisis sebelumnya mereda," katanya.

Meski demikian, Abdullah menegaskan Yordania akan tetap berkomitmen terhadap perdamaian yang adil. Yordania juga akan terus mendukung ketahanan Palestina dan mempertahankan status quo historis serta legal di situs-situs suci Muslim dan Kristen di Yerusalem.

Abdullah mengatakan Yordania ingin menjadi negara yang dapat diandalkan dalam upaya menjaga perdamaian.

"Negara yang dapat diandalkan dunia, setia pada prinsip-prinsip kita, setia pada janji kita, siap berbicara dengan siapa pun dan siap bekerja sama dengan siapa pun yang menginginkan perdamaian," ujarnya.

Ia menegaskan prinsip tersebut berlaku untuk berbagai konflik di dunia, termasuk Gaza, Sudan, dan Ukraina.

"Baik di Gaza, Sudan, Ukraina, atau di mana pun orang hidup dalam perang, pengungsian, dan ketakutan, baik krisis itu dimulai beberapa minggu yang lalu atau telah berlangsung selama beberapa dekade, prinsip-prinsip kita tidak dapat berubah hanya karena perhatian dunia," kata Abdullah.

Ia kemudian mengingatkan pentingnya menentukan fokus perhatian dunia di tengah banyaknya krisis global.

"Di dunia yang bersaing untuk mendapatkan perhatian kita, kita harus cermat dalam mengarahkan perhatian kita, dan waspada terhadap apa yang berusaha mengalihkannya," ujarnya.

"Masa depan dibentuk bukan hanya oleh apa yang kita lakukan, tetapi juga oleh apa yang kita pilih untuk abaikan," lanjut Abdullah.

(mge/dna)

HALAMAN:
1 2