6 Momen Unik Sidang PBB: Ada Pemimpin Pidato sampai 4,5 Jam

CNN Indonesia
Kamis, 24 Sep 2026 08:45 WIB
Indonesian President Prabowo Subianto speaks during a United Nations Summit on Palestinians at UN headquarters during the United Nations General Assembly (UNGA) in New York on September 22, 2025. France and other countries prepared to recognize a Pal
Sidang Majelis Umum PBB. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

3. Trump mau "menghancurkan sepenuhnya" Korea Utara

Pada 2017, Presiden AS Donald Trump menggunakan podium Sidang Umum PBB untuk menyampaikan ancaman keras terhadap Korea Utara.

Dalam pidatonya, Trump bahkan mengancam akan "menghancurkan Korea Utara sepenuhnya". Ia juga menyebut pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, sebagai "Manusia Roket".

"Amerika Serikat memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar, tetapi jika dipaksa untuk membela diri atau sekutunya, kita tidak akan punya pilihan selain menghancurkan Korea Utara sepenuhnya. Si Manusia Roket sedang menjalankan misi bunuh diri untuk dirinya sendiri dan untuk rezimnya," kata Trump.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu, tetapi semoga hal ini tidak perlu terjadi," katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika hubungan Washington dan Pyongyang berada dalam kondisi tegang akibat program nuklir dan uji coba rudal Korea Utara.

Namun, kurang dari setahun kemudian, hubungan keduanya berubah. Trump menjadi presiden AS pertama yang bertemu langsung dengan Kim dalam pertemuan tingkat tinggi di Singapura.

Pertemuan lanjutan Trump dan Kim di Hanoi pada 2018 tidak menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri kebuntuan terkait program nuklir dan uji coba rudal Korea Utara.

4. Benjamin Netanyahu menetapkan garis merah terkait program nuklir Iran

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menggunakan alat bantu visual ketika berbicara mengenai program nuklir Iran dalam Sidang Umum PBB pada 2012.

Netanyahu membawa gambar sederhana berbentuk bom dengan sumbu untuk menjelaskan apa yang disebut sebagai tahapan pengayaan uranium Iran.

Ia kemudian menggambar garis merah pada bagian yang menandai sekitar 90 persen pengayaan uranium.

"Jika ini adalah fakta, dan memang demikian, di mana garis merah harus ditarik? Garis merah harus ditarik tepat di sini," kata Netanyahu, sambil menggambar garis merah sungguhan di angka 90 persen.

Pidato itu menjadi salah satu momen paling mudah dikenali dalam sejarah Sidang Umum PBB karena penggunaan garis merah tersebut.

Netanyahu kemudian menjadi salah satu pengkritik utama kesepakatan nuklir Iran pada 2015. Kesepakatan tersebut membuat Iran membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sejumlah sanksi ekonomi.

Trump kemudian menarik AS dari kesepakatan tersebut pada 2018. Setelah itu, Iran kembali meningkatkan sejumlah aktivitas nuklirnya, meski pemerintah Iran membantah memiliki tujuan untuk membuat senjata nuklir.

5. Boris Johnson memperingatkan bahaya AI

Pada 2019, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, membawa isu kecerdasan buatan (AI) ke podium Sidang Umum PBB.

Johnson memperingatkan bahwa perkembangan teknologi dapat membawa manfaat, tetapi juga menimbulkan risiko jika tidak dikendalikan.

Ia menggambarkan kemungkinan masa depan ketika teknologi justru mengambil alih kendali manusia. Johnson bahkan menggunakan gambaran "ayam tanpa kaki".

Johnson juga mempertanyakan apakah robot akan digunakan untuk membantu manusia, termasuk merawat orang lanjut usia, atau justru menghasilkan teknologi yang dapat mengancam umat manusia.

Pidato Johnson pada saat itu sempat menjadi bahan ejekan karena gaya penyampaiannya. Namun, perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir membuat isu mengenai etika, keamanan, dan regulasi kecerdasan buatan semakin menjadi perhatian pemerintah di berbagai negara.

6. Fidel Castro berpidato selama 4,5 jam

Rekor pidato terlama dalam sejarah Sidang Umum PBB menjadi milik pemimpin Kuba, Fidel Castro.

Pada 26 September 1960, Castro berbicara selama 269 menit atau sekitar 4 jam 29 menit. PBB mencatat pidato tersebut sebagai pidato terlama yang waktunya tercatat dalam sejarah Majelis Umum.

Saat itu, Castro baru sekitar setahun berkuasa setelah Revolusi Kuba. Dari podium PBB, dia menyampaikan kritik panjang terhadap ketimpangan global dan kebijakan AS terhadap Kuba serta negara-negara Amerika Latin.

Castro juga menyinggung masalah kepemilikan lahan, kemiskinan petani, rendahnya upah, eksploitasi pekerja, buta huruf, kekurangan sekolah dan tenaga medis, serta kurangnya jaminan sosial bagi masyarakat lanjut usia.

"Majelis Umum Nasional rakyat Kuba mengutuk kepemilikan lahan skala besar sebagai sumber kemiskinan bagi petani dan sistem produksi pertanian yang terbelakang dan tidak manusiawi," kata Castro, menurut transkrip pidato yang diterbitkan oleh Universitas Texas di Austin .

"Deklarasi ini mengutuk upah yang sangat rendah dan eksploitasi tenaga kerja manusia yang tidak adil oleh kepentingan-kepentingan yang tidak sah dan istimewa," lanjut Castro.

"Deklarasi ini mengutuk buta huruf, kekurangan guru, sekolah, dokter dan rumah sakit, serta kurangnya jaminan hari tua di negara-negara Amerika," katanya.

Ia juga mengecam "eksploitasi perempuan" dan "oligarki militer, yang membuat terjadi kemiskinan, menghambat perkembangan demokrasi, dan pelaksanaan kedaulatan secara penuh.

Setahun kemudian, AS melancarkan invasi Teluk Babi yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Castro, tetapi operasi tersebut gagal.

(mge/rds)


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2