Tiga Tahun Agresi Brutal Israel, Kehidupan Warga Gaza Hancur

CNN Indonesia
Kamis, 08 Okt 2026 19:05 WIB
Civil Defence workers attempt to rescue people trapped beneath the rubble of a residential building that had been damaged in an earlier Israeli strike during the war and collapsed on Wednesday, in Gaza City, September 16, 2026. REUTERS/Mahmoud Issa
Reruntuhan di Gaza imbas tiga tahun agresi brutal Israel. Foto: REUTERS/Mahmoud Issa

Sistem kesehatan Gaza juga berada dalam kondisi kritis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan seluruh 36 rumah sakit di Gaza mengalami kerusakan. Hanya 19 rumah sakit yang masih berfungsi dan tidak ada yang beroperasi dengan kapasitas penuh.

Rumah sakit yang masih beroperasi menghadapi kekurangan obat, peralatan medis, perlengkapan diagnostik, dan bahan bakar. Kondisi itu mengganggu pengobatan pasien kanker, dialisis, serta penderita penyakit kronis.

Sejak Oktober 2023, sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis di luar Gaza. Namun, WHO menyebut puluhan ribu pasien lainnya masih membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tempat tinggal yang padat, minimnya air bersih, dan buruknya sanitasi juga meningkatkan risiko wabah penyakit. Pada September, WHO memperingatkan sistem kesehatan Gaza tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menghadapi risiko tersebut.

Perang juga mengubah wilayah Gaza secara geografis. Kontrol militer Israel dan pembatasan akses membuat warga Palestina terkonsentrasi di wilayah yang semakin sempit.

Euro-Med Human Rights Monitor memperkirakan sekitar 70 persen wilayah Gaza berada di bawah kendali militer Israel atau terkena pembatasan akses. Kondisi itu membuat lebih dari dua juta warga Palestina terkonsentrasi di kurang dari 30 persen wilayah Gaza.

Rafah menjadi salah satu contoh paling jelas. Kota di selatan Gaza itu pernah menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang mengungsi dari berbagai wilayah. Pada Mei 2024, operasi militer Israel di Rafah menyebabkan lebih dari 800 ribu orang kembali mengungsi, menurut PBB.

Saat ini, hampir seluruh wilayah Rafah, kecuali bagian barat di Mawasi Rafah, berada di bawah kendali Israel. Warga yang telah mengungsi pun tidak dapat kembali ke banyak wilayah tempat mereka tinggal sebelumnya.

Perang juga melemahkan pemerintahan dan keamanan di Gaza. Hamas telah memerintah Gaza sejak 2007, tetapi perang membuat pemerintahan sipil dan layanan keamanan di wilayah tersebut terdegradasi.

Pada Juli, Hamas menyatakan akan menyerahkan kekuasaan administratif kepada Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG), sebuah badan teknokrat Palestina yang dibentuk berdasarkan rencana pasca perang. Namun, proses transisi tersebut belum terlaksana.

Sistem keamanan Gaza juga melemah. Kantor Hak Asasi Manusia PBB mencatat sebanyak 12 serangan terhadap polisi antara Januari dan Mei 2026. Serangan tersebut menewaskan 53 orang, termasuk 35 polisi.

PBB menilai serangan terhadap lembaga pemerintahan publik ikut memperburuk kekacauan dan melemahkan perlindungan warga sipil.

Kelompok hak asasi manusia Palestina juga memperingatkan bahwa lemahnya aparat keamanan berkontribusi terhadap penculikan, serangan terhadap properti, serta penjarahan bantuan kemanusiaan.

Bagi warga Gaza, tiga tahun perang menciptakan kehidupan yang penuh ketidakpastian tanpa kepastian kapan mereka dapat kembali hidup normal.

(mge/dna/bac)

HALAMAN:
1 2