China Marah, Kirim Kapal Buntuti Kapal Perang AS di Laut China Selatan

CNN Indonesia
Rabu, 21 Okt 2026 09:30 WIB
China menuduh kapal perang AS memasuki perairan sengketa di Laut China Selatan tanpa izin pada Selasa (20/10). (Foto: AFP/TED ALJIBE)
Jakarta, CNN Indonesia --

China menuduh kapal perang Amerika Serikat memasuki perairan sengketa di Laut China Selatan tanpa izin pada Selasa (20/10) hingga mengerahkan kapal Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk membuntutinya.

Juru bicara Komando Teater Selatan Angkatan Laut PLA, Yin Gang, mengatakan kapal USS Charleston "secara ilegal memasuki" perairan sekitar Sabina Shoal "tanpa izin" dari China pada Selasa (20/10) pagi. Beijing menyebut tindakan tersebut mengganggu stabilitas kawasan.

Yin menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan China. Ia menegaskan klaim Beijing atas "kedaulatan yang tidak terbantahkan" Kepulauan Spratly.

Dikutip South China Morning Post, ia juga menilai aktivitas militer AS dapat "merugikan perdamaian dan stabilitas regional". Beijing pun mendesak Washington menghentikan kegiatan tersebut.

Namun, militer Filipina membantah tuduhan bahwa kapal AS tersebut melanggar wilayah China.

Juru bicara militer Filipina, Vincent Trinidad, mengatakan tidak ada negara yang berhak mewajibkan kapal memperoleh izin terlebih dahulu untuk melintasi perairan internasional secara sah, seperti dilaporkan Bilyonaryo News Channel.

Insiden ini kembali menyoroti persaingan antara China dan AS di Laut China Selatan, kawasan strategis yang menjadi sumber sengketa teritorial sejumlah negara.

Perairan tersebut menjadi rawan konflik setelah China mengeklaim hampir seluruh kawasan perairan Laut China Selatan, yang tumpang tindih dengan wilayah teritorial sejumlah negara Asia Tenggara terutama Filipina.

Sementara itu, Sabina Shoal, yang dikenal sebagai Xianbin Jiao di China dan Escoda Shoal di Filipina, terletak sekitar 145 kilometer di barat laut Pulau Palawan, Filipina. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik utama perselisihan Beijing dan Manila sejak 2024.

Saat itu, Filipina menempatkan kapal penjaga pantai di Sabina Shoal selama lima bulan karena khawatir China akan melakukan reklamasi lahan di kawasan tersebut.

Kapal Filipina kemudian mundur pada September 2024 setelah serangkaian konfrontasi, termasuk tabrakan antara kapal penjaga pantai kedua negara.

Meski insiden tersebut tampaknya menjadi kali pertama pada tahun ini, terhadap kapal perang AS yang memasuki perairan sengketa Laut China Selatan tanpa izin. Namun, insiden serupa pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Pada 2020, Beijing mengaku telah memperingatkan kapal perang USS Montgomery agar meninggalkan perairan di sekitar Kepulauan Spratly yang diklaim China.

Ketegangan di Laut China Selatan meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring bentrokan berulang antara China dan Filipina. Perselisihan tersebut melibatkan kapal penjaga pantai dan angkatan laut, tabrakan kapal, hingga penggunaan meriam air.

Di tengah situasi tersebut, AS memperkuat kerja sama militernya dengan Filipina melalui patroli angkatan laut bersama dan latihan militer. Washington juga menentang klaim teritorial Beijing yang dinilai melampaui batas.

AS merupakan sekutu Filipina berdasarkan perjanjian pertahanan. Dalam pernyataan bersama setelah Dialog Strategis Bilateral AS-Filipina ke-12 pada Februari, kedua negara menegaskan kembali komitmen berdasarkan Perjanjian Pertahanan Bersama 1951.

Perjanjian tersebut mencakup serangan bersenjata terhadap angkatan bersenjata, pesawat, dan kapal publik kedua negara, termasuk kapal penjaga pantai, di kawasan Pasifik, termasuk Laut China Selatan.

Insiden USS Charleston terjadi menjelang kunjungan Presiden AS, Donald Trump, ke Manila untuk menghadiri pertemuan ASEAN bulan depan.

USS Charleston sendiri merupakan kapal tempur pesisir kelas Independence yang ditempatkan di Asia Tenggara di bawah Skuadron Perusak 7. Satuan tersebut bermarkas di Singapura dan berada di bawah Armada Ketujuh AS.

Hingga laporan tersebut disusun, Armada Ketujuh AS belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai tuduhan China.

(mge/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK