AS Diam-diam Pulangkan Diplomat dari Timteng, Ada Apa?
Amerika Serikat (AS) diam-diam dikabarkan memindahkan para diplomat dan keluarganya dari pos-pos mereka di Timur Tengah dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada CNN bahwa penarikan itu dilakukan karena meningkatnya ancaman eskalasi konflik di kawasan.
Memo tertanggal 23 Oktober yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan intelijen AS menemukan bahwa "Iran telah secara substansial meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS" di Timur Tengah.
Rencana itu disebut sudah mencapai "tahap lanjut", baik di Timur Tengah maupun di beberapa negara lain.
"Dalam hal penempatan staf di kedutaan, kami terus mengevaluasi informasi terbaru mengenai keamanan," kata sumber.
"Ancaman serangan Houthi dan rencana teror Iran yang menargetkan pejabat AS menjadi pertimbangan kami dalam pengambilan keputusan terkait penyesuaian staf untuk kedutaan yang berstatus RO (perwakilan pemerintah asing) di wilayah tersebut."
Pemulangan para diplomat ini telah membuat frustrasi para perwakilan AS. Pasalnya, banyak diplomat yang baru saja kembali ke pos mereka, tapi kini diminta pergi lagi.
Salah seorang diplomat AS mengatakan bahwa gaji dan tunjangan yang mereka terima hingga saat ini tidak mencakup biaya untuk memindahkan seluruh keluarga dari Timur Tengah.
Banyak keluarga yang diminta pergi dari Timur Tengah saat awal-awal perang AS vs Iran pecah pada Februari.
Mereka baru kembali dan belum lama mendapat tempat tinggal serta mendaftarkan sekolah untuk anak-anak mereka, tapi sekarang harus pergi lagi.
"Ini mengulangi kekacauan yang dialami keluarga-keluarga para diplomat awal tahun ini. Beberapa bahkan belum sempat benar-benar menetap kembali dan kini diminta perg kembali," kata juru bicara American Foreign Service Association, Nikki Gamer.
"Dapat dimengerti jika mereka merasa kesal, bingung, dan marah," ucapnya.
Pekan ini, Kementerian Luar Negeri AS memerintahkan evakuasi personel non-darurat dan seluruh anggota keluarga mereka dari Arab Saudi. Para pejabat mengatakan perintah tersebut dilakukan sebagai respons atas peningkatan eskalasi yang dilakukan kelompok milisi Houthi.
Selain di Saudi, para pejabat dan staf AS di Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat, dan Lebanon juga dikabarkan telah dikurangi.
Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri membenarkan kepada CNN bahwa ada perubahan sementara pada tingkat kepegawaian di Lebanon, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Yordania. Namun, tidak ada perubahan untuk staf di Kuwait dan Bahrain.
Konflik antara Houthi dan Saudi kian memanas sejak kembali pecah pada Juli lalu. AS memperkirakan pertempuran ini dapat meningkat dengan cepat ke luar wilayah kedua pihak.
Presiden AS Donald Trump baru-baru ini juga telah mengisyaratkan akan meluncurkan serangan baru ke Iran usai pemilihan paruh waktu AS pada November. Hal ini menyusul mandeknya negosiasi damai dengan Teheran dan ambisi Trump untuk memusnahkan total nuklir Iran.
(blq/chri)