7 Tanda Perang AS-Israel lawan Iran Segera Kembali Pecah
CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 04:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Foto: REUTERS/Ed Ou
4. AS kurangi staf diplomatik
Washington juga telah mengurangi kehadiran diplomatik dan militernya di beberapa bagian Timur Tengah.
Sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada CNN bahwa penarikan itu dilakukan karena meningkatnya ancaman eskalasi konflik di kawasan.
Memo tertanggal 23 Oktober yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan intelijen AS menemukan bahwa "Iran telah secara substansial meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS" di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rencana itu disebut sudah mencapai "tahap lanjut", baik di Timur Tengah maupun di beberapa negara lain.
Berbicara pada hari Jumat, Trump merujuk pada operasi sebelumnya yang menyerupai kampanye militer AS yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury.
"Kita mungkin akan membuat Epic Fury kecil lagi. Atau mereka akan setuju," kata Trump.
Pernyataan-pernyataannya tersebut menyusul laporan bahwa para komandan militer senior Amerika telah menyampaikan opsi untuk serangan baru terhadap fasilitas-fasilitas Iran.
6. Target baru AS
Sementara itu, NBC News melaporkan bahwa para pejabat militer Amerika telah menyampaikan opsi yang melibatkan serangan dengan target baru, terutama terhadap pintu masuk dan terowongan di fasilitas nuklir Iran yang terkubur dalam, termasuk Gunung Pickaxe.
Target potensial lainnya termasuk Pulau Kharg, pusat penting bagi ekspor minyak Iran, dan Pulau Qeshm di Selat Hormuz.
Kedua pulau tersebut memiliki kepentingan strategis yang cukup besar. Kharg merupakan pusat ekspor minyak mentah Iran, sementara Qeshm terletak di dekat salah satu jalur pengiriman energi tersibuk di dunia.
Serangan terhadap lokasi-lokasi tersebut dapat mengganggu pasokan minyak dan pengiriman komersial, dengan konsekuensi yang meluas ke seluruh Teluk dan pasar energi internasional.
Iran ternyata sudah mempersiapkan serangan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei untuk meninjau perkembangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel serta untuk memberi sinyal koordinasi politik di tengah tekanan militer, ekonomi, dan informasi.
Menurut transkrip pembicaraan, Ghalibaf dan Khamenei membahas perkembangan terbaru dalam apa yang digambarkan oleh pejabat Iran sebagai "perang militer, ekonomi, dan kognitif" yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Mereka juga menekankan penguatan "unsur-unsur kekuasaan" Iran, menjaga kohesi sosial dan persatuan nasional, serta mempertahankan mobilisasi publik untuk mendukung rezim Islam.
Ambisi Amerika Serikat dan Israel menghancurkan rezim Iran masih belum terpuaskan. Mereka kini sedang mempersiapkan aksi militer lanjutan setelah perang yang memakan waktu delapan bulan belum juga membuat Iran menyerah.
Presiden AS Donald Trump sudah menyatakan kesiapan tersebut."Kami telah menghantam mereka (Iran) habis-habisan, dan kami mungkin akan melancarkan serangan lebih lanjut," ujarnya saat ditanya wartawan di Gedung Putih pada Kamis (22/10).
Dikutip Al Jazeera, Trump mengeklaim ia mendapat dukungan publik soal perangnya melawan Iran menjelang pemilihan paruh waktu AS.
Sementara Mehdi Mohammadi, seorang penasihat Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa kedua pihak semakin mendekati saat-saat genting.
"Tanda-tanda konfrontasi militer, khususnya antara Iran dan rezim Israel, terlihat semakin intensif," tulis Mohammadi di saluran Telegram-nya pada Rabu (21/10), dikutip dari Gulf News.
Ini tujuh tandanya:
1. Puluhan jet tempur Israel mendekat
Mehdi Mohammadi menunjuk pada apa yang digambarkannya sebagai peningkatan penerbangan musuh di atas Irak, pergerakan di wilayah pendudukan, dan persiapan militer yang dirancang untuk memberikan fleksibilitas maksimal bagi berbagai skenario.
"Musuh telah bergerak semakin dekat ke 'waktu nol'," tulisnya.
Tanda yang lebih jelas seperti dilaporkan Axios, bahwa "puluhan" jet tempur Israel terbang hingga ke perbatasan Iran dalam operasi skala besar yang bertujuan untuk memproyeksikan kekuatan militer dan mencegah Teheran.
2. Kapal induk AS bersiap
Para pelaut Amerika sedang memuat amunisi dan mempersiapkan pesawat di atas kapal perang, termasuk kapal-kapal dalam kelompok serang kapal induk USS George Washington, demikian dilaporkan The Wall Street Journal pada hari Sabtu (24/10).
Persiapan perang ini makin jelas setelah para pejabat AS dapat peringatan intelijen bahwa rencana Iran yang menargetkan warga Amerika telah mencapai tahap lanjut, menurut laporan dari Axios, CNN, dan NBC News.
Menurut Axios, yang pertama kali melaporkan dokumen tersebut, intelijen AS menilai bahwa rencana Iran untuk melakukan serangan mematikan terhadap warga Amerika telah mencapai tahap lanjut.
NBC News kemudian melaporkan bahwa seorang pejabat AS mengkonfirmasi keaslian memorandum tersebut.
Peringatan tersebut tidak menyebutkan target spesifik, metode serangan, atau negara di luar Timur Tengah tempat dugaan rencana tersebut berkembang.
Bersambung ke halaman berikutnya...
7 Tanda Perang AS-Israel lawan Iran Segera Kembali Pecah
Foto: REUTERS/Ed Ou
4. AS kurangi staf diplomatik
Washington juga telah mengurangi kehadiran diplomatik dan militernya di beberapa bagian Timur Tengah.
Sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada CNN bahwa penarikan itu dilakukan karena meningkatnya ancaman eskalasi konflik di kawasan.
Memo tertanggal 23 Oktober yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan intelijen AS menemukan bahwa "Iran telah secara substansial meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS" di Timur Tengah.
Rencana itu disebut sudah mencapai "tahap lanjut", baik di Timur Tengah maupun di beberapa negara lain.
Berbicara pada hari Jumat, Trump merujuk pada operasi sebelumnya yang menyerupai kampanye militer AS yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury.
"Kita mungkin akan membuat Epic Fury kecil lagi. Atau mereka akan setuju," kata Trump.
Pernyataan-pernyataannya tersebut menyusul laporan bahwa para komandan militer senior Amerika telah menyampaikan opsi untuk serangan baru terhadap fasilitas-fasilitas Iran.
6. Target baru AS
Sementara itu, NBC News melaporkan bahwa para pejabat militer Amerika telah menyampaikan opsi yang melibatkan serangan dengan target baru, terutama terhadap pintu masuk dan terowongan di fasilitas nuklir Iran yang terkubur dalam, termasuk Gunung Pickaxe.
Target potensial lainnya termasuk Pulau Kharg, pusat penting bagi ekspor minyak Iran, dan Pulau Qeshm di Selat Hormuz.
Kedua pulau tersebut memiliki kepentingan strategis yang cukup besar. Kharg merupakan pusat ekspor minyak mentah Iran, sementara Qeshm terletak di dekat salah satu jalur pengiriman energi tersibuk di dunia.
Serangan terhadap lokasi-lokasi tersebut dapat mengganggu pasokan minyak dan pengiriman komersial, dengan konsekuensi yang meluas ke seluruh Teluk dan pasar energi internasional.
Iran ternyata sudah mempersiapkan serangan. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf telah bertemu dengan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei untuk meninjau perkembangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel serta untuk memberi sinyal koordinasi politik di tengah tekanan militer, ekonomi, dan informasi.
Menurut transkrip pembicaraan, Ghalibaf dan Khamenei membahas perkembangan terbaru dalam apa yang digambarkan oleh pejabat Iran sebagai "perang militer, ekonomi, dan kognitif" yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Mereka juga menekankan penguatan "unsur-unsur kekuasaan" Iran, menjaga kohesi sosial dan persatuan nasional, serta mempertahankan mobilisasi publik untuk mendukung rezim Islam.