2 Sekutu Malah Kalah Pemilu usai Dapat Dukungan Jor-joran Trump

CNN Indonesia
Senin, 26 Okt 2026 22:00 WIB
Presiden Donald Trump dan PM Hungaria Viktor Obran pada November 2025 lalu. (Foto: AFP/SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dua calon pemimpin negara malah menelan kekalahan dalam pemilihan umum di negara masing-masing meski telah mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Terbaru, senator sekaligus putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, Flávio Bolsonaro, kalah dari presiden petahana, Luiz Inácio Lula da Silva, dalam pemilihan presiden yang digelar pada Minggu (25/10).

Sementara itu, mantan Perdana Menteri Hungaria, Viktor Orbán, juga kehilangan kekuasaan setelah 20 tahun berkuasa usai kalah dalam pemilihan pada 12 April lalu. Orbán dikalahkan Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar.

Kekalahan kedua tokoh tersebut menjadi sorotan karena mereka mendapatkan dukungan dari Trump.

Lula Kalahkan Putra Bolsonaro di Brasil

Pada Minggu (25/10), Lula da Silva atau yang kerap disapa Lula memenangkan pemilihan presiden Brasil setelah mengalahkan Flávio.

Berdasarkan hasil penghitungan yang dikutip Al Jazeera, Lula meraih lebih dari 51 persen suara, sedangkan Flávio memperoleh sekitar 48 persen. Otoritas pemilihan menyatakan Lula sebagai pemenang ketika sekitar 98,76 persen suara telah dihitung.

Kemenangan tersebut membawa Lula, yang berusia 80 tahun, kembali menjabat sebagai presiden untuk keempat kalinya. Hasil ini juga menjadi pukulan bagi keluarga Bolsonaro, yang sebelumnya gagal mengalahkan Lula dalam pemilihan presiden 2022.

Namun, Flávio menolak menerima hasil pemilu tersebut dan menyatakan akan menempuh jalur hukum untuk menggugatnya.

"Mustahil untuk mengakui hasil pemilu mengingat bagaimana peristiwa ini terjadi," kata Flávio kepada para pendukungnya di Brasilia setelah kemenangan Lula diumumkan.

"Kami akan menempuh jalur hukum. Kami akan meminta agar pemilihan ini dibatalkan," lanjutnya.

Perselisihan muncul setelah pemungutan suara di Brasil diperpanjang selama dua jam menyusul permintaan dari kedua kubu. Tim kampanye Lula meminta perpanjangan waktu dengan alasan adanya insiden yang memengaruhi bus transportasi pemilih di sejumlah negara bagian.

Sementara itu, tim kampanye Flávio juga meminta perpanjangan waktu di beberapa wilayah karena hujan lebat dinilai menyulitkan pemilih mencapai tempat pemungutan suara.

Hakim Mahkamah Agung Brasil, Cristiano Zanin, mengabulkan permintaan dari tim kampanye Lula. Namun, belum jelas bagaimana proses hukum yang dijanjikan Flávio akan memengaruhi hasil pemilu.

Sebelum pemungutan suara ditutup, Trump mengatakan dirinya "memantau" pemilihan presiden Brasil. Ia tidak menyebutkan kandidat yang ingin dimenangkannya, meskipun sebelumnya memuji penampilan Flávio pada putaran pertama.

"Saya tidak ingin membahas itu, tetapi kami sedang mengamati," kata Trump kepada wartawan pada Minggu (25/10).

Trump memiliki hubungan dekat dengan keluarga Bolsonaro. Pada 2022, Trump secara terbuka mendukung Jair Bolsonaro yang saat itu mencalonkan diri kembali sebagai presiden Brasil melawan Lula.

Reuters juga melaporkan bahwa sejumlah pejabat di Kementerian Luar Negeri AS mendorong pemberian sanksi terhadap Brasil sebagai bagian dari upaya menekan pemerintahan Lula dan membantu keluarga Bolsonaro kembali berkuasa.

Lula menjadikan pembelaan terhadap kedaulatan Brasil dan penolakan terhadap campur tangan asing sebagai tema utama kampanyenya. Ia juga mengkritik kebijakan tarif Trump serta pernyataan publik presiden AS tersebut mengenai proses hukum terhadap Jair Bolsonaro.

Dalam pidato kemenangannya, Lula menggambarkan harus "mengatasi campur tangan dari luar" dalam upayanya untuk meraih masa jabatan keempat.

"Pemilu ini merupakan kekalahan bagi penyangkalan," kata Lula pada Minggu malam.

"Ini adalah kekalahan bagi kebohongan," lanjutnya.

Baca di halaman berikutnya >>>

Dari Brasil ke Hungaria, 2 Sekutu Trump Kalah Pemilu


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :