"Kami masih belum sampai ke sana. Masih butuh proses untuk mendalaminya. Semoga dalam waktu dekat," kata Imam saat mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi untuk melengkapi berkas laporan harta kekayaannya, Rabu (18/11).
Saat ini, Imam menyebut, dirinya masih dalam tahap memberikan imbauan kepada Komisi Disiplin PSSI agar menunjukkan keseriusannya menangani permasalahan menjamurnya mafia di ranah persepakbolaan Indonesia. "Kami akan minta Komisi Disiplin PSSI untuk bertindak lebih tegas dan serius lagi," kata Imam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak tanggung-tanggung, dia berjanji bakal menyerahkan seluruh gajinya kepada Evan Dimas Cs."Ya kami sudah menyiapkan (gaji) bulan pertama saya untuk mereka kalau masuk final," ujar Imam saat ditanya soal target pencapaian Tim Garuda.
Keberadaan mafia sepak bola Indonesia kini sudah menjadi rahasia umum. Kondisi tersebut kian kuat setelah terjadinya insiden yang menjadi buah bibir jagat persepakbolaan dunia. Kala itu, PSS Sleman dan PSIS Semarang menunjukkan permainan tanpa menjunjung sportivitas.
Laga yang bergulir di babak delapan besar divisi utama itu berakhir dengan skor 3-2 untuk kemenangan PSS. Ironisnya, semua gol tercipta lewat aksi bunuh diri. Insiden bermula setelah babak pertama berakhir dengan skor kaca mata. PSS lantas berinisiatif lebih dulu menyarangkan dua gol bunuh. Tak disangka, PSIS pun membalas dengan menjaring tiga gol ke gawang sendiri.
Pertandingan pun menjadi konyol. Belakangan diketahui, kedua tim memilih untuk kalah karena ingin menghindari bertemu Pusamania Borneo FC di babak selanjutnya. Imbas dari hasil tersebut, PSS dan PSIS didiskualifikasi dari divisi utama oleh Komisi Disiplin PSSI.