“Bila memang sudah tak bisa lagi diperbaiki, mungkin Panglima TNI dan Kapolri harus melakukan mutasi besar-besaran,” kata Aboe kepada CNN Indonesia, Kamis (20/11).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu berpendapat bentrok TNI-Polri di Batam sangat memalukan karena sudah terjadi dua kali. Ia mengkritik kedua institusi yang tidak bisa mengantisipasi dan mencegah bentrokan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Aboe, rekonsiliasi tidak bisa sebatas pertemuan antarpimpinan. Para anggota TNI dan Polri di sana harus dilibatkan bersama. “Perlu dibuat semacam acara gathering untuk mencairkan suasana. Mereka semua ini kan komponen keamanan dan pertahanan negara. Seharusnya saling dukung untuk meningkatkan pertahanan keamanan,” ujarnya.
Aboe meminta pemerintah merespons cepat insiden ini, misalnya dengan mencopot pimpinan pasukan masing-masing
Secara terpisah, Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Mayjen Fuad Basya mengatakan perselisihan antara anggota Yonif-134 dan personel Brimob dipicu oleh masalah sepele. “Empat anggota kami (TNI) sedang ngopi di warung. Kemudian melintas beberapa anggota Brimob. Di situ terjadi saling tatap,” kata dia.
Dari saling tatap di Jalan Trans Barelang, Kecamatan Sagulum itulah, ujar Fuad, tanpa alasan jelas terjadi adu mulut di antara kedua pihak. Situasi sempat mereda, namun anggota Yonif dan personel Brimob itu malah memanggil rekan-rekannya. Bentrok pun tak terhindarkan.
Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdijatno menyesalkan bentrok Batam. “Saya selaku Menkopolkam mohon maaf kepada masyarakat yang terganggu karena bentrokan ini. Kami akan menyelesaikan persoalan ini,” ujar Tedjo.
Mantan KSAL itu menegaskan pagi ini situasi di Batam sudah kondusif. KSAD Letjen Gatot Nurmantyo dan Pangdam sudah berada di lokasi bentrok, sedangkan Kapolri Jenderal Sutarman dalam perjalanan menuju Batam.