Padahal Kamis kemarin (27/11) Megawati dalam pertemuannya dengan Ahok, sapaan akrab Basuki, mengatakan dapat memahami pilihan Ahok soal wakilnya. (Baca: Ahok Sampaikan Wakil Gubernur Pilihannya ke Megawati)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami yakin Boy pasti bisa bersinergi dengan Ahok. Ahok tidak perlu meragukan kemampuan Boy,” kata Basarah. (Baca: Boy Bukan Wagub Pilihan Ahok)
Meski Basarah mengakui Ahok punya hak prerogatif untuk menentukan wakilnya sendiri berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Kepala Daerah, ia mengingatkan Ahok diusung sepaket bersama Jokowi oleh PDIP dan Gerindra dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.
“Karena sekarang Jokowi sudah maju menjadi presiden, maka secara etika politik, wakil gubernur harus diisi PDIP. Ahok tidak boleh melupakan sejarah yang menjadikan dia sebagai gubernur,” kata Basarah.
Ini tentu kontras dengan perbincangan Ahok dan Megawati dalam pertemuan mereka kemarin sore. Menurut Ahok, Mega memahami pilihannya, dan mengerti apa-apa saja pertimbangan Ahok dalam menentukan wakilnya.
Ahok lebih memilih wakil yang punya pengalaman pemerintahan. “Kalau mau ngukur karakter sejati seseorang, kasih dia kekuasaan. Kalau kamu sudah jadi pejabat, kan ketahuan korupsi atau tidak. Tapi kalau pilih yang belum berkuasa, kamu masih nebak-nebak (karakter dia yang sesungguhnya),” kata mantan bupati Belitung Timur itu.
Meski demikian, Ahok menegaskan bukan berarti ia tak suka dengan Boy, sebab hubungan personal keduanya baik. Persoalan Boy di mata Ahok hanya satu: belum pernah berkecimpung di dunia birokrasi.