Pendamping Ahok

Prestasi Tiga Calon Wakil Gubernur Pilihan Ahok

Anggi Kusumadewi, CNN Indonesia | Jumat, 28/11/2014 16:51 WIB
Prestasi Tiga Calon Wakil Gubernur Pilihan Ahok Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Jakarta Sarwo Handayani masuk bursa wakil gubernur Ahok. (detikfoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengantongi tiga nama calon wakil gubernur: mantan wali kota Surabaya Bambang Dwi Hartono, mantan wali kota Blitar Djarot Syaiful Hidayat, dan Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Jakarta Sarwo Handayani.

Ahok, sapaan Basuki, akan memilih satu dari ketiganya. Bambang, Djarot, dan Sarwo punya satu kesamaan di mata Ahok: memiliki pengalaman birokrasi. Itulah yang menjadi kriteria utama Ahok dalam memilih wakil gubernur. Ahok mengatakan ingin wakil yang betul-betul berpengalaman, teruji, dan pekerja keras.

Berikut rekam jejak tiga calon wakil gubernur pilihan Ahok:



1. Djarot Syaiful Hidayat

Djarot adalah wali kota Blitar dua periode, 2000-2005 dan 2005-2010. Dia juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP. Selama memimpin Blitar, Djarot dikenal tak suka dengan gaya metropolitan dan kemewahan. Dia tak suka mal dan gedung bertingkat. Itu sebabnya ia tak membangun Blitar dengan konsep kota-kota besar di tanah air seperti Jakarta dan Surabaya.

Djarot menata pedagang kaki lima dari semrawut menjadi rapi. PKL pun menjadi roda perekonomian Blitar. Ekonomi Blitar maju berkat PKL alih-alih mal seperti yang menjadi ciri kota metropolitan.

Di bawah kepemimpinan Djarot, Blitar dinilai berhasil menata kota dan mengelola lingkungan sehingga meraih penghargaan Adipura selama tiga tahun berturut-turut –2006, 2007, dan 2008.

Menurut Ahok, Djarot sukses dengan program bedah rumahnya di Bitar. Lewat program itu, Pemerintah Kota Blitar memberikan anggaran Rp4-7 juta per rumah. Dengan dana itu, rumah-rumah warga yang sudah tak layak huni direnovasi.

Ahok juga suka dengan cara Djarot menangani PKL di Blitar. Ke depannya, Ahok ingin PKL ditata rapi di dalam mal. Ia ingin meleburkan batas-batas antara pasar tradisional dan pasar modern.

Ahok mengatakan kenal Djarot sejak tahun 2006 ketika dia masih menjabat bupati Belitung Timur. Mereka bertemu lagi ketika Pilkada DKI Jakarta 2012. Djarot yang kader PDIP ikut berkampanye untuk kemenangan Jokowi-Ahok.


2. Bambang Dwi Hartono

Bambang merupakan wali kota Surabaya 2010-2013, dan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Timur. Bambang seharusnya menjabat wali kota hingga 2015, namun mundur sebelum akhir periode dan digantikan oleh wakilnya Tri Rismaharini karena ia dicalonkan PDIP menjadi gubernur Jawa Timur.

Bambang dikenal visioner. Ia menata drainase kota untuk mencegah banjir, menata taman kota, memperbaiki fasilitas-fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan terminal. Ia juga menggratiskan biaya sekolah dasar dan menengah.

Pria kelahiran 1961 itu juga mencabut izin belasan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di jalur hijau, dan mempelopori pengembangan pantai timur Surabaya sebagai kawasan konservasi alam dalam kota terbesar di Indonesia.


3. Sarwo Handayani

Sarwo ialah Ketua Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan DKI Jakarta. Ia menjabat posisi itu sejak 1 November 2014. Sarwo birokrat murni, pegawai negeri sipil yang berkarier di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sejak 2004.

Ia pernah menjabat Kepala Dinas Pertamanan DKI Jakarta, Asistem Pembangunan Pemprov DKI Jakarta, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah DKI Jakarta, dan Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DK Jakarta. Sarwo juga duduk sebagai Komisaris Utama PT Pembangunan Jaya Ancol.

Perempuan kelahiran Oktober 1954 itu meraih gelar sarjana dari Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung dan gelar pascasarjana dari Magister Administrasi Universitas Indonesia.


Dari ketiga figur di atas, Bambang DH dan Djarot merupakan kader PDIP, sedangkan Sarwo birokrat profesional. Latar belakang partai politik atau nonpartai, ujar Ahok, tidak menjadi pertimbangannya.

“Saya enggak bicara PDIP atau bukan. Saya mengusulkan nama mereka tidak karena soal partai, tapi karena mereka mengerti cara kerja di pemerintahan,” kata Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (28/11).

Sampai sekarang, Ahok masih menimbang-nimbang nama siapa yang akan dia usulkan ke Kementerian Dalam Negeri sebagai wakilnya. Surat usulan rencananya akan ia kirimkan ke Kemendagri pekan depan.