Priyo yang sempat menjadi bakal calon ketua umum Golkar, berharap partainya tak pecah. Selama ini Priyo berada satu kubu dengan Agung Laksono. Mereka tergabung dalam Tim Penyelamat Partai Golkar. Seperti Agung, Priyo juga menolak Musyawarah Nasional Golkar di Bali yang ia anggap tak demokratis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Akbar sempat minta tolong kepada Priyo untuk bersama-sama mendamaikan Akbar dan Ical. "Saya membujuk Ical, Anda Agung," kata Akbar ketika ditemui Priyo di kamar hotel tempatnya menginap. Priyo setuju. Namun ternyata justru Aburizal yang menolak tawaran damai dari Akbar, hingga akhirnya Agung pergi meninggalkan Bali. (Baca: Ical Tolak Tawaran Akbar, Tutup Pintu Damai dengan Agung)
Soal Tim Penyelamat Partai Golkar, Priyo siap membubarkannya dengan syarat Munas digelar demokratis. Sebab, kata Priyo, sejak awal didirikan, Tim Penyelamat punya misi mengawal dan memastikan Munas berlangsung dengan baik, transparan, dan tanpa rekayasa.
"Maka Tim siap bubar manakala Munas terselenggara halal dan demokratis," ujar Priyo. Masalahnya, menurut dia, kenyataannya Munas berlangsung tak adil.
Golkar, ujar Priyo, mestinya menyediakan arena bertarung yang demokratis bagi kadernya untuk memperebutkan kursi ketua umum Golkar. Namun malah muncul rekaman yang diduga suara Nurdin Halid, yang membuktikan bahwa ada skenario dalam Munas Bali untuk memenangkan Ical. (Baca: Nurdin Halid Bantah Rekaman Skenario Pemenangan Ical)
Sampai saat ini, Priyo dan Tim Penyelamat masih menilai Munas di Bali inkonstitusional. Oleh karena itu Tim berpandangan perlu digelar Munas yang jujur dan adil.
"Setelah terjadi Munas yang jujur dan adil, siapapun ketua umum yang terpilih akan kami hormati. Kami sudah kenyang makan asam garam demokrasi," ujar mantan wakil ketua DPR itu.