Menurut hasil survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden oleh lembaga Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA ditemukan sebanyak 72,9 4 persen responden menginginkan Golkar islah melalui jalur internal partai.
Ardian Sopa selaku peneliti LSI mengatakan setidaknya ada empat alasan yang mendasari responden ingin masalah Golkar diselesaikan melalui internal partai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dia juga mengatakan kemampuan Golkar rujuk melalui internal akan membuat partai lain menempuh jalur serupa.
Responden juga memiliki keyakinan Golkar punya tradisi panjang untuk bisa menyelesaikan konflik internalnya.
Konflik dalam tubuh Partai Golkar bermula saat beberapa sosok muda menunjukkan penolakannya terhadap kepemimpinan Aburizal Bakrie yang mereka anggap gagal menaikkan derajat Partai Golkar. Sosok tersebut di antaranya Agung Laksono, Priyo Budi Santoso, Agus Gumiwang, Agun Gunandjar, hingga Yorrys Raweyai.
Mereka menentang diadakannya Musyawarah Nasional Partai Golkar yang saat itu direncanakan akan dilaksanakan di Bali dan meminta Munas digelar pada 2015. Namun, permintaan mereka tidak digubris dan Aburizal Bakrie malah memecat mereka saat Munas Bali digelar.
Tidak terima, Agung cs akhirnya menggelar Munas tandingan yang diadakan di Ancol hanya selang beberapa hari setelah Munas Bali selesai dilaksanakan. Dualisme kepengurusan tersebut akhirnya sampai ke meja Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Kemenkumham menentukan kedua kubu harus berdamai terlebih dahulu sebelum kepengurusan mereka disahkan oleh pemerintah.
Ardian mengungkapkan dari hasil survey ditemukan kesimpulan bahwa citra Golkar di mata masyarakat bisa menjadi buruk apabila kedua kubu menyelesaikan kisruh melalui pengadilan.
"Itu membuktikan kedua kubu tidak bisa menyelesaikan sendiri masalahnya. Dampaknya akan membuat citra mereka buruk," katanya.