Tedjo menegaskan, tak ada halangan lagi untuk mengeksekusi para terpidana mati kasus narkoba itu. Tak perlu pula menunggu peraturan MA seputar pembatasan jumlah peninjauan kembali (PK) yang diajukan oleh terpidana. Apalagi dari sisi kesiapan teknis, eksekusi terpidana mati yang semula direncanakan dilakukan tahun ini, sudah siap semua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Tedjo, terdapat 64 terpidana mati yang sudah memilki kekuatan hukum tetap. Dari 64 terpidana mati itu, beberapa orang ada yang sudah tidak bisa mengajukan PK lagi dan grasinya ditolak, termasuk empat dari enam terpidana yang direncanakan bakal dieksekusi tahun ini.
Terkait PK yang sebelumnya dinyatakan Jaksa Agung M Prasetyo menghalangi pelaksanaan eksekusi, Tedjo mengatakan hal itu akan diselesaikan oleh MA. "Nanti PK akan dibatasi dan grasi pasti ditolak oleh Presiden," katanya.
Tedjo mengatakan, MA nantinya akan mengatur jeda waktu dan jumlah pengajuan PK yang diperbolehkan. Peraturan tersebut akan segera dikeluarkan, tinggal menunggu pembahasan final dari Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Jaksa Agung M Prasetyo, dan Ketua MA Hatta Ali.
Sementara Jaksa Agung Prasetyo menyatakan eksekusi empat terpidana mati ditunda karena mereka masih mengajukan PK. Kejaksaan harus menunggu apakah PK itu diterima atau ditolak. Pengajuan PK berkali-kali disebut Prasetyo menghambat pelaksanaan eksekusi mati. Oleh sebab itu ia berharap Peraturan MA segera terbit untuk mengatur berapa kali terpidana berhak mengajukan PK. (Baca: PK Berulang Hambat Eksekusi Mati Gembong Narkoba)