Sementara itu partai politik tidak bisa dipisahkan dalam iklim demokrasi. Partai bahkan disebut dan diatur serta diposisikan sebagai pilar penyangga demokrasi di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Matahari kembar terjadi pula di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Golongan muda pimpinan Romahurmuziy melawan kubu lawas Suryadharma Ali yang mendapuk Djan Faridz sebagai ketua umum partai Kabah ini. sebagai catatan, konflik ini muncul lantaran tak jalannya regenrasi politik secara mulus. Lagi-lagi soal regenerasi.
Mirisnya, dari kelima partai yang akan menyelenggarakan kongres atau musyawarah, hampir dipastikan keputusan mereka adalah menunjuk para petahana dengan wajah lama.
Partai Demokrat semisal yang memberikan sinyal terhadap Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi ketua umum sampai 2020. Bagaimana dengan Gerindra? Hal yang sama sepertinya akan terjadi di partai kepala garuda. Wakil ketua umumnya, Fadli Zon memberikan sinyal kepastian Prabowo Subianto akan memimpin partai yang baru mengikuti dua kali pemilihan umum ini.
Setali tiga uang, begitu pula dengan Partai Hanura. Dalam beberapa kesempatan, secara tegas dikatakan langsung oleh Ketua Umumnya Wiranto, mantan Panglima ABRI ini mengklaim atas permintaan kadernya siap dan akan kembali memimpin partai. ini artinya, kaum tua masih mendominasi.
Begitu pula dengan Partai Aamanat Nasional. Meski ada beberapa calon yang kuat, seperti Zulkifli Hasan dan Drajad Wibowo, tongkat kekuasaan PAN sepertinya masih akan diteruskan oleh ketua umum lamanya, Hatta Rajasa yang dianggap memiliki kiprah paling moncer dari semua kandidat yang ada.
Untuk itu, Hatta Rajasa mengamini bahwa dirinya akan kembali maju mencalonkan diri sebagai ketua umum PAN selanjutnya.
Selama 15 tahun lebih setelah reformasi, nama-nama itu saja yang terus terbentang di layar politik Indonesia. Prabowo, Wiranto, Hatta Rajasa, Megawati, SBY dan Ical ibarat mempunyai jurus tersendiri untuk berjalan tanpa hambatan agar tetap berada di tampuk kekuasaan.