Evakuasi AirAsia

Sepenggal Kisah Duka di Sudut Surabaya

Vriana Indriasari, CNN Indonesia | Kamis, 01/01/2015 07:06 WIB
Sepenggal Kisah Duka di Sudut Surabaya Keluarga korban AirAsia QZ8501 berdoa bersama di Bandara Juanda, Rabu 31 Desember 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Surabaya, CNN Indonesia -- Tirai senja perlahan turun mendekap hari terakhir di 2014, beriringan dengan tirai duka yang menyelimuti hati ratusan orang di sebuah sudut Bandara Juanda, Surabaya.

Malam pergantian tahun, 31 Desember, seharusnya menjadi momen penuh keceriaan bagi mereka. Sebelumnya, kerabat terkasih mereka bahkan berencana merayakan pergantian tahun ke Negeri Singa Putih, Singapura. Namun takdir berkata lain.

Kehendak hati untuk menginjakkan kaki di Singapura berakhir di laut. Belum lama mengudara, pesawat AirAsia QZ8501 yang ditumpangi 155 orang dari Surabaya menuju Singapura hilang di radar ketika cuaca buruk melanda Selat Karimata, Minggu (28/12).


Entah apa yang sesungguhnya terjadi di langit ketika itu, namun serpihan dan jasad mulai ditemukan mengapung di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Selasa (28/12).

Angan penuh tawa di pengujung tahun pun berakhir mimpi buruk. Pesawat yang ditumpangi dengan hati gembira, berubah puing. Hasrat untuk bertemu dan menghabiskan akhir tahun dengan gembira bersama orang-orang terkasih, berganti duka.

Ketika tirai malam 2014 ditutup, semua tinggal angan dan mimpi. Kenangan bagi kerabat, kolega, dan keluarga.

Senandung sendu

Tepat pukul 16.00 WIB di hari terakhir 2014, dua unit ambulans membawa dua jasad penumpang AirAsia QZ8501 memasuki RS Bhayangkara Surabaya, salah satunya adalah pramugari QZ8501 bernama Khairunisa Haidar Fauzi. (Baca: Jenazah Pramugari Dievakuasi)

Selang dua jam, langkah-langkah gontai terdengar. Para kerabat korban dengan wajah sendu memasuki Crisis Centre di Mapolda Jawa Timur. Air mata tak lagi mengalir, namun kesedihan mewujud nyata di wajah-wajah.

Seorang lelaki tua yang tampak lelah, berjalan dengan bantuan kerabat lainnya. Matanya sedikit sembab lantaran habis menangis. Mata itu kosong, menatap menerawang tak berbatas, bagai cinta tak berbalas.

Lelaki tua itu hanya satu dari ratusan orang yang berduka di sudut Surabaya. Seorang wanita juga terlihat duduk termangu di sudut lain ruangan. Tak banyak yang bisa dilakukan. Manusia-manusia duduk tertunduk selama beberapa jam.

Satu jam berlalu, mereka pun beranjak pergi. Kembali ke hotel untuk kembali lagi esok hari, ketika tahun telah berganti.

Petugas gabungan TNI, Polri, dan Badan SAR NAsional memasukkan dua jenazah korban AirAsiaQZ8501 ke mobil ambulans di Lanud Juanda, Surabaya, Selasa 31 Desember 2014. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Hotel Ibis di Terminal I Bandara Juanda menjadi salah satu tempat menginap ratusan keluarga korban. Hotel itu sunyi, tak meriah layaknya pergantian tahun. Hanya terdengar langkah kaki keuarga korban mengarah ke kamar masing-masing.

Tahun telah berganti, 1 Januari 2015, namun mereka masih harus menanti. Menanti kepastian kabar dari orang-orang tercinta. Dari lebih dari 150 orang di dalam pesawat, baru tujuh jasad ditemukan. Ke mana lainnya? Sampai kapan harus menunggu?

Semoga seiring tahun berjalan, langkah-langkah lunglai itu kembali teguh. Duka tersimpan, doa terlantun. Semua milik-Nya akan kembali pada-Nya. (pit/agk)