Pengangkatan Badan Pesawat AirAsia QZ8501 Gagal Lagi

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Selasa, 27/01/2015 21:26 WIB
Pengangkatan Badan Pesawat AirAsia QZ8501 Gagal Lagi Badan pesawat AirAsia QZ8501 ditemukan di perairan Selat Karimata sektor prioritas II operasi pada kedalaman 28 meter, 3.000 meter dari lokasi ditemukannya ekor pesawat. CNN Indonesia/Lalu Rahadian
Jakarta, CNN Indonesia -- Direktur Operasional Basarnas, Marsekal Muda SB. Supriyadi mengatakan operasi pengangkatan badan pesawat AirAsia QZ8501 yang dilakukan pada hari ini masih juga gagal. Faktor alam menjadi alasan utama.

"Hari ini tidak ada hasil. Arus yang tiba-tiba kencang dan jarak pandang yang hanya satu meter menjadi alasannya," kata Supriyadi kepada CNN Indonesia, Selasa (27/1).

Ia mengatakan usaha pengangkatan badan pesawat dengan teknik balon telah dilakukan selama enam jam, tetapi berakhir gagal. Karena alasan kondisi alam buruk, usaha itu dihentikan pada pukul 12.00 WIB.


Sejauh ini, jumlah jenazah yang ditemukan adalah 70 orang. Airbus A320 tersebut menghilang dari layar radar saat cuaca buruk pada 28 Desember 2014. Saat itu, pesawat ini tengah membawa penumpang dari Surabaya ke Singapura.

Sebelumnya, penyelam dari TNI telah mengangkat kotak hitam (black box) pesawat berupa Flight Data Recorder (FDR) pada Senin (12/1) lalu. Sementara, Cockpit Voice Recorder (CVR) diangkat pada Selasa (13/1) lalu.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akan mengirimkan temuan awal terkait hasil investigasi dari kotak hitam itu ke International Civil Aviation Organization (ICAO) pada pekan ini.

"Data awal itu berupa informasi di pesawat, jumlah penumpang, dan informasi lainnya seperti itu," kata investigator Suryanto, seperti dikutip dari Reuters. Namun, data itu tidak mencakup analisis mereka dari kedua kotak hitam.

Para investigator mengatakan mereka belum memulai analisisnya karena masih mengumpulkan data lainnya untuk penyelidikan.

Sementara, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan pesawat ini sempat naik dengan kecepatan tidak wajar di atas batas normal sebelum akhirnya jatuh dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Jonan mengungkapkannya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa sore (20/1). Akan tetapi, investigator menyatakan belum menemukan bukti adanya kecurangan. (obs/obs)