"Makanya saya ngotot e-budgeting. Kalau enggak nongol lagi (dana fiktif). Saya bisa kasih lihat contoh yang Dinas Pendidikan," kata Ahok di Balai Kota, Jakarta, Rabu (25/2).
Ahok lantas meminta kepada asistennya untuk membawakan contoh draft dana fiktif. Tak berapa lama, sembari membawa draft tersebut, dengan nada menggebu-gebu ia menyebut ulah DPRD yang memasukkan pos belanja tidak masuk akal ini sebagai maling.
Ia mencontohkan pengadaan sound system di sebuah SD yang mencapai nilai Rp 5 miliar. Menurut Mantan Bupati Belitung Timur tersebut, dana sebesar itu bisa dipakai untuk memperbaiki satu sekolah dibandingkan hanya untuk membeli perangkat sound system.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari foto yang diambil oleh CNN Indonesia, dalam draft tersebut nampak beberapa pos anggaran dengan nilai fantastis. Anggaran tersebut antara lain alat peraga perubahan energi untuk SMP dengan nilai Rp 3,5 miliar; pengadaan UPS di SMP 37 dan SMP 41 masing-masing sebesar Rp 6 miliar; pengadaan alat percepatan peningkatan mutu pembelajaran e-smart teacher education di SDN Kecamatan Cilandak sebesar Rp 4,9 miliar.
"Itu ngarang, dia (Ahok) panik. Seolah-olah kalau dewan yang usul disangka korupsi, enggak bos. Pelaksana dong yang korupsi," tuturnya.
Lebih jauh, papar Taufik, permasalahan APBD 2015 ini akan terus diselidiki oleh dewan melalui panitia angket. Ia menyampaikan selama 60 hari proses penyelidikan berlangsung, gubernur memiliki hak untuk menjawab dan menjelaskan kepada dewan duduk persoalan APBD ini. (sip)