Daeng Koro adalah lelaki kelahiran Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Dia lahir 15 Januari 1963," kata Kepala Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen Wuryanto kepada CNN Indonesia, Minggu malam (5/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia lalu pada 1985 dipindahkan ke Brigade Infanteri 3 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat --sebelumnya bernama Grup 3 Kopasandha-- di Maros, Sulawesi Selatan. Di tempat ini Daeng Koro terus bermain voli sebelum akhirnya dipecat pada 1992 karena ketahuan berselingkuh dengan istri orang pada 1988. (Baca: Daeng Koro Dipecat karena Selingkuhi Istri Orang).
Daeng Koro tewas dalam baku tembak antara Densus 88 dengan kelompoknya di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Jumat (3/4). Kejadian bermula dari laporan warga yang melihat enam orang tak dikenal di sekitar kediaman mereka selepas salat Jumat. Warga kemudian melaporkan hal itu ke Mapolres Parimo.
Tim Densus 88 Antiteror lalu melakukan penyisiran dan melihat sekitar 12 orang tak dikenal. Saat itu tembakan peringatan dilepas, dan kelompok Daeng Koro membalas dengan rentetan tembakan. (Baca juga: Baku Tembak Densus dan Jaringan Santoso Disertai Ledakan Bom)
Dari baku tembak tersebut, Densus menyita barang bukti dua pucuk senjata laras panjang jenis M-16 dan satu pucuk senjata rakitan, satu bom lontong, ratusan amunisi, dua ponsel, dan GPS.
Baca selengkapnya kisang sang teroris di FOKUS: Akhir Perlawanan Daeng Koro.
(agk)