Prabowo Sebut Adu Domba Pengurus Parpol Mental Penjajah

Abraham Utama, CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2015 05:00 WIB
Prabowo Sebut Adu Domba Pengurus Parpol Mental Penjajah Prabowo Subianto menghadiri Muktamar ke VIII PPP di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (30/10). (ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus dualisme kepengurusan di tubuh Partai Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan jadi sorotan tersendiri Prabowo Subianto saat melantik pengurus DPP Gerindra. Ia memperingatkan pihak-pihak yang merecoki dua partai anggota Koalisi Merah Putih itu akan berhadapan dengan Partai Gerindra.

Menurut Prabowo, dalam demokrasi dibutuhkan saling pengertian. Pertarungan perebutan kekuasaan diharapkan bukan jadi ajang permusuhan, namun hanya sebuah seleksi pemimpin yang terbaik bagi bangsa.

"Lawan politik bukanlah musuh, tapi saudara sendiri," kata Ketua Umum Partai Gerindra itu di Kantor DPP Gerindra, Jakarta, Rabu (8/4).


Karena itu Prabowo mengaku kecewa dengan adanya kisruh yang terjadi di tubuh partai politik anggota KMP saat ini. Jika memang ada gangguan dari luar yang mengacak-acak Golkar dan PPP maka hal itu patut disayangkan. "Ini mental kolonial dan imperalis," katanya.

Upaya adu domba seperti ini, kata Prabowo sama seperti politik devide et impera jaman penjajahan. "Kalau dulu sultan lawan sultan, sekarang ketua umum dilawan anak buah yang dibesarkannya sendiri," katanya.

Gerindra ditegaskan Prabowo tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Sebagai anggota KMP, Gerindra tidak akan membiarkan begitu saja anggota KMP yang lain terancam. "Kader KMP tersentuh, seluruh Gerindra tersentuh," katanya.

Demokrasi, lanjut Prabowo tidak akan diserahkan pada preman-preman bayaran. Kesejukan dalam demokrasi harus terus dijaga dengan tetap berlandasakan penegakan hukum. "Siapa yang menabur angin, dia akan menuai badai," katanya.

Kisruh dualisme di tubuh PPP dan Golkar hingga saat ini belum berakhir. Jika di Golkar ada Aburizal Bakrie dan Agung Laksono yang mengklaim sebagai Ketua Umum yang sah, maka di PPP ada Djan Faridz dan Romahurmuziy. (Baca juga: Agung Laksono: Sah di Mata Pemerintah, Lumpuh di DPR)

Dualisme kepengurusan ini juga berimbas pada arah koalisi politik. Golkar di bawah kepemimpinan Aburizal yang sejak awal bergabung dalam KMP, namun oleh Agung dinyatakan tak lagi ada di dalam KMP.

Sementara PPP dibawah kepemimpinan Romuhurmuziy juga menyatakan kaluar dari KMP dan beralih ke Koalisi Indonesia Hebat. Padahal sebelumnya PPP dibawah kepemimpinan Suryadharma Ali yang kemudian digantikan oleh Djan Faridz adalah anggota KMP. (Baca juga: Gerah dengan Kisruh PPP, Hamzah Haz Minta Satu Kubu Mengalah) (sur/sur)