Ahok: Sekolah Internasional Tak Jamin Kualitas Lulusan

Abraham Utama, CNN Indonesia | Senin, 13/04/2015 09:43 WIB
Ahok: Sekolah Internasional Tak Jamin Kualitas Lulusan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memberikan keterangan pada wartawan di Balaikota, Jakarta, Senin, 23 Maret 2015. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menilai sekolah internasional belum tentu dapat menjamin kualitas hasil lulusannya. Ia berkata, hal tersebut berbeda dengan sekolah negeri dan swasta yang menggunakan kurikulum standar.

Selain terjangkau masalah biaya, sekolah-sekolah biasa ini menurutnya konsisten dan fokus pada kegiatan belajar-mengajar dan bukan mencari keuntungan. "Sekarang internasional kalau lama-lama semakin mahal orang juga akan balik ke sekolah kayak gini," ujar Ahok saat meninjau pelaksanaan ujian nasional di SMA Santa Ursula, Jakarta, Senin (13/4). (Baca juga: UN Berbasis Komputer Minimalisir Jual Beli Soal)


Mengambil contoh sekolah khusus putri yang berada di Jalan Pos, Jakarta Pusat itu, Ahok menuturkan, selama 156 tahun SMA Santa Ursula telah menjadi pilihan generasi ke generasi.


"Dari buyutnya sampai cicitnya jadi alumni sekolah ini. Ini bukti kalau sekolah konvesional berpikir konsisten, bukan cari uang semata, bisa tidak ditinggal," ucapnya.

Mantan Bupati Belitung Timur itu pun memprediksi, sekolah dengan slogan internasional yang kerap mematok biaya sekolah tinggi lama-kelamaan tidak akan dipercayai orangtua murid lagi. (Lihat Fokus: Cara Baru Ujian Nasional)

Lebih lanjut, Ahok mengapresiasi kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Kebudayaan yang tidak menjadikan ujian nasional sebagai satu-satunya faktor penentu kelulusan murid. Ia pun memiliki harapan, tahun depan, seluruh sekolah di Jakarta dapat menggelar ujian nasional berbasis komputer yang tersambung internet atau computer based test.

"Saya kira DKI Jakarta relatif lebih siap dibandingkan daerah lain. Ada beberapa sekolah telah  diuji coba menggunakan sistem komputer. Tahun-tahun ke depan harus pakai komputer. Kan hampir semua siswa punya laptop," ujarnya. (sip)