"Susah dapat angka pasti. Tapi memang ada yang terpantau, ada yang melakukan pendekatan kepada kami, ada yang menyerah, dan menyesal," kata Arief kepada CNN Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief menyebut, kondisi dan kebutuhan ekonomi menjadi salah satu faktor yang membuat ratusan WNI tersebut memilih ikut gerakan ISIS. Mereka dijanjikan akan mendapat kehidupan yang lebih layak ketimbang yang pendapatan mereka selama ini, sambil berjuang membela agama. "Mereka dijanjikan dapat gaji US$ 1.500 per minggu sehingga mereka mau berangkat ke Suriah, dan keluarga mereka dijamin di Indonesia. Itu janjinya," cerita Arief.
Diketahui, aksi teror yang dilakukan ISIS telah membuat semua pihak merasa khawatir. Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga telah melakukan sejumlah pertemuan di level nasional maupun internasional untuk menanggulangi penyebaran gerakan dan paham ISIS di tanah air.
Dalam pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika (KAA) hari ini, Rabu (22/4), Jokowi menyatakan perang terhadap aksi terorisme. Dia mengajak seluruh negara di kawasan Asia Afrika untuk menghadap tantangan stabilitas lantaran maraknya aksi teror di seluruh penjuru dunia. "Kita harus menghadapi kekerasan, pertikaian, dan radikalisme, ISIS," ujar Jokowi.
Jusuf Kalla sebelumnya telah mengumpulkan sejumlah menteri dan organisasi massa (ormas) Islam di rumah dinasnya, 14 April lalu, untuk membahas penanggulangan gerakan teror ISIS yang melibatkan warga negara Indonesia (WNI). "Ideologi radikal sama seperti virus," kata JK.
Menteri tersebut di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil; Menteri Agama Lukman Hakim; Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa; Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir; Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin; Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir; Ketua Dewan Penasihat ICMI Jimmly Asshiddiqie; dan Ketua GP Ansor Nusron Wahid. (rdk)