Zainal Abidin, Satu-satunya Terpidana Mati Ganja

Helmi Firdaus, CNN Indonesia | Selasa, 28/04/2015 23:08 WIB
Zainal Abidin, satu-satunya terpidana mati asal Indonesia dan satu-satunya pula yang terjerat karena ganja. Pengacara Ade Yuliawan memperlihatkan testimoni yang ditulis oleh terpidana mati kasus narkoba Masagus Zainal Abidin, di dermaga penyeberangan Wijayapura, Cilacap, Jateng, Kamis (5/3). (ANTARA/Rekotomo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sama seperti eksekusi mati gembong narkotik gelombang pertama, hanya satu warga negara Indonesia yang dihukum mati di gelombang kedua ini, yakni Zainal Abidin. Selain satu-satunya warga negara Indonesia, Zainal, juga memiliki perbedaan diantara terpidana mati lainnya.

Pertama, dia satu-satunya terpidana mati yang narkotiknya adalah ganja. Terpidana yang lain karena sabu, heroin atau ekstasi. Zainal ditangkap di rumahnya di Kelurahan Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, akibat kasus kepemilikan ganja, pada 21 Desember 2000. Bersama barang bukti 58,7 kilogram ganja, ditangkap pula istri Zainal yaitu Kasyah dan teman Zainal yang dari Aceh, Aldo.

Yang kedua, Zainal adalah satu-satu terpidana mati yang hukuman awalnya di pengadilan negeri adalah penjara 18 tahun, bukan hukuman mati. Namun karena dia mengajukan banding, akhirnya Zainal pun menghadap regu tembak di Nusakambangan Rabu (29/4) dini hari.


Berikut adalah perjalanan Zainal hingga dia dieksekusi mati di Nusakambangan.

21 Desember 2000
Zainal ditangkap bersama 58,7 kg ganja di rumahnya di Palembang.

13 Agustus 2001
Zainal divonis 18 tahun oleh PN Palembang.

4 September 2001
Dia divonis PT Palembang hukuman mati.

2 Mei 2005
Zainal mengajukan PK ke Mahkamah Agung.

Desember 2014
Zainal mengajukan grasi ke Presiden Jokowi.

2 Januari 2015
Grasi Zainal ditolak dengan Keppres Nomor 2/G Tahun 2015

25 April 2015
PK kedua Zainal ditolak MA.

Baca juga: 

Nasib Zainal Abidin, dari Vonis 18 Tahun ke Eksekusi Mati

Air Mata dan Zuhur Terakhir Zainal Bersama Keluarga

FOKUS: Bergerak Menuju Regu Tembak (hel)