Ke mana lagi mengadu? Ketika pejabat desa tak lagi mendengar. Ketika aparat penegak hukum tak lagi melihat.
Untung Purwanto. Seorang warga Desa Ponowareng, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengaku kerap menerima intimidasi dari sejumlah pihak. Mulai dari yang berpakaian preman hingga seragam loreng-loreng laiknya TNI. Untung diancam untuk menjual lahan sawah miliknya demi melancarkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara di Batang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, Untung juga pernah diintimidasi secara fisik. Ketika sedang berkendara motor di jalan menuju rumah, Untung dicegat sekelompok preman. "Saya ditarik, mau dipukul pakai batu. Sepeda motor saya ditendang dan saya diancam mau dibunuh," ujar Untung yang hingga kini mengaku masih sering mendapat ancaman serupa.
Untung memiliki lahan sawah seluas 2.259 meter persegi di Desa Ponowareng. Lahan ini terbilang masih sangat produktif karena mampu memanen padi hingga 3-4 kali dalam setahun. Pendapatan per tiga bulan pun, Untung katakan, bisa meraup setidaknya Rp 8 juta.
"Desa kami itu desa swasembada. Dari zaman Soeharto hingga sekarang masih swasembada pangan. Apapun tanaman bisa tumbuh di desa kami. Irigasi di sini juga didukung oleh irigasi teknis," ujar Untung.
Sejak 2011 lalu, banyak warga rela melepas ladang sawah miliknya seharga Rp 30 ribu per meter persegi. Seiring berjalannya waktu, harga jual semakin meningkat dan sekarang menjadi Rp 400 ribu per meter persegi.