"Dia (Jokowi) resmikan sawah. Orang Papua tidak butuh sawah. Orang Papua bikinnya kebun, ubi jalar, atau sagu. Yang diuntungkan teman-teman transmigran," ujar tokoh agama Papua, Dorman Wandikmbo dalam acara diskusi bertajuk Sepulang Jokowi Dari Papua di LBH Jakarta, Jumat (22/5). (Baca juga: Menteri Marwan Akui Transmigrasi Picu Adanya Konflik)
Dorman pun menganggap kebijakan pembangunan ini nantinya akan menguntungkan masyarakat pendatang saja. Sebagai contoh tentang pembangunan Pasar Mama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dibangun rumah sakit. Orang Papua belum disiapkan untuk perawat dan dokter. Nanti yang kerja pasti orang pendatang lagi," ucap Dorman.
Hal ini dianggap Dorman sebagai modernisasi yang terlalu cepat. "Buat Papua ini seperti melompat dari zaman batu langsung ke zaman modern. Proses cepat sekali," ujarnya.
Inilah yang menurut Dorman menjadi penghambat bagi masyarakat Papua untuk berkembang. Dilihat dari latar belakang pendidikan saja ia menilai masyarakat Papua sudah tertinggal dari masyarakat pendatang yang kebanyakan berasal dari Jawa.
"Kerja di bank, toko, jadi pengusaha, operasional sehari-hari di penerbangan bahkan sampai dengan minyak dikerjakan semua oleh teman-teman non Papua. Orang papua mau menikmati yang mana," kata Dorman. "Ini harus dipahami betul baru bisa membangun Papua." (Baca juga: Jokowi Perlu Grand Design Papua, Bukan hanya Grasi Tapol).
Sebagaimana diketahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan rangkaian selama enam hari, dari 7 hingga 12 Mei 2015. Wilayah yang dikunjungi antara lain Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan negara tetangga, Papua Nugini.
Saat kunjungannya di Papua, Jokowi memberian grasi kepada lima tahanan politik Papua di Penjara Abepura, terkait Papua Merdeka. Jokowi juga meresmikan Pasar Mama. Dalam kunjungannya tersebut, Jokowi menyatakan pemberian grasi kepada para tahanan politik Papua ini diharapkan bisa jadi jalan awal untuk membuat Papua menjadi tempat yang damai. (hel)