Hal itu dikatakan Haslinda, guru Sejarah SMAN 3 yang sudah mengajar murid di sekolah di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, itu sejak 2003. Linda, sapaan akrabnya, menyebut Retno sebagai sosok kepala sekolah yang menyenangkan. (Baca: Cerita Retno soal Tradisi Bullying Finansial di SMAN 3)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Linda pun berani menyebut Retno sebagai karakter yang memilik integritas tinggi dan loyal kepada aturan. "Dia itu mampu menunjukkan integritasnya. Dia orang yang humble," ujar dia.
"Ibu itu kalau ngomong halus banget. Aku bingung, di mata sebagian orang menilai dia kayak orang kejam. Tapi dia justru enggak ada sedikit pun kejam sama anak. Bahkan waktu dicopot sebagai kepala sekolah, beliau yang malah minta salaman dengan anak-anak, pamitan dulu, minta maaf, dan mengucapkan terima kasih. Enggak pernah ada kepala sekolah yang mau seperti itu," kata Retno. (Baca: Tolak Surat Kepala Dinas Jadi Awal Pertaruhan Retno di SMAN 3)
Usai dicopot dari jabatannya sebagai Kepala Sekolah SMAN 3, Retno kini kembali bertugas di SMAN 13 di Koja, Jakarta Utara, tempat dia pernah bertugas selama 14 tahun. Meski Retno tak terima dengan pencopotannya dan akan memproses hukum persoalan itu, ia mengaku senang-senang saja bisa kembali mengajar di SMAN 13 yang dahulu juga sekolah tempatnya belajar. (Baca: Retno Tak Bisa Menulis Selama Jadi Kepala Sekolah)
(meg/agk)