“Saya sudah beberapa kali juga mendengar keluhan Pak JK itu, bagi kami di PGI tidak mempermasalahkan suara azan atau pengajian dengan pengeras suara di masjid-masjid,” ujar Jeirry kepada CNN Indonesia, Senin malam (8/6). (Baca juga FPI: Pendengar Rekaman Mengaji Dapat Pahala)
Menurut Jeirry daripada JK mempersoalkan rekaman pengajian dan juga azan yang suaranya keras lebih baik memikirkan hal-hal yang jauh lebih penting soal kehidupan beragama yang lainnya. “Buat kami soal suara azan dan suara dari kaset pengajian di masjid-masjid tidak ada masalah, bukan substansial itu,” kata Jeirry. (Baca: JK Minta Hentikan Rekaman Pengajian yang Diputar di Masjid)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jeirry mengklaim dapat memahaminya kalau memang ritual dalam agama Islam seperti itu. “Ya tidak masalah, tidak terganggu,” ucapnya lagi.
Dia menambahkan, seharusnya JK sebagai Wakil Presiden dan juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia kalau memang mengkritik suara rekaman pengajian atau azan yang keras tak hanya melalui perkataan saja. “Apa tindakannya, jangan sekadar ngomong, bikin regulasi, pengaturannya secara jelas,” ujar Jeirry.
Ketua Komisi Agama Dewan Perwakilan Rakyat Saleh Partaonan Daulay juga menyoroti pernyataan JK tersebut. Menurut politikus Partai Amanat Nasional ini ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh Wakil Presiden yaitu kelengkapan fasilitas di masjid-masjid.
“Wapres bisa saja meminta Kementerian Agama untuk merumuskan program bantuan sarana dan fasilitas di rumah-rumah ibadah,” kata Saleh kepada CNN Indonesia, Senin malam (8/6). (Baca juga MUI: Tak Perlu Ada Fatwa Rekaman Suara Pengajian di Masjid)
Dengan demikian, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah periode 2010-2015 ini kehadiran pemerintah betul-betul bisa dirasakan oleh masyarakat.
Anggota DPR dari daerah pemilihan Sumatera Utara II itu membeberkan ada banyak fasilitas rumah ibadah yang bisa mendapat perhatian pemerintah seperti kelengkapan pengeras suara yang baik, alat kebersihan, kamar mandi, dan lain-lain.
“Sarana dan fasilitas itu sangat penting untuk menciptakan kenyamanan bagi umat dalam menjalankan ajaran agamanya,” kata pimpinan Komisi VIII DPR ini.
Baca juga: Hizbut Tahrir Setuju JK, Mengaji Mestinya Tak Bising (obs)