"Setahu saya dulu itu, beliau yang menyerbu kantor DPP PDI Perjuangan. Saya tidak tahu pertimbangannya, saya harus tanya dahulu," ujar TB Hasanuddin di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (10/6).
Kejadian yang dimaksud oleh Anggota Komisi I ini adalah kejadian tragedi berdarah yang terjadi pada 27 Juli 1996 silam. Pada saat itu, Kantor DPP PDIP yang terletak di Jalan Diponegoro No. 58 diserang oleh sejumlah oknum yang diduga tentara. (Baca juga: Harta Calon Panglima TNI Capai Rp 7 Miliar)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutiyoso yang saat itu menjabat sebagai Panglima Daerah Militer Jaya dikabarkan memimpin langsung penyerangan yang dikenal sebagai tragedi kerusuhan dua puluh tujuh Juli (kuda tuli). (Baca juga: DPR soal Sutiyoso Calon Kepala BIN: Intel Harus Gaul)
"Saya enggak menyayangkan. Tapi ya sudah. Itu keputusan presiden. Mau apa?" tuturnya.
Jokowi resmi menunjuk Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Sutiyoso sebagai Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Sutiyoso akan menggantikan tugas yang selama ini diemban Letnan Jenderal (Purn) Marciano Norman sejak 19 Oktober 2011. (Calon Panglima TNI dan Kepala BIN Gatot-Sutiyoso Segera Diuji)
Sebelum penunjukan Sutiyoso sebagai Kepala BIN resmi disampaikan hari ini, sejumlah nama simpang siur dikabarkan menjadi pimpinan lembaga intelijen itu. Namun kepastian dia menjabat posisi tersebut dipastikan Jokowi saat memanggil Sutiyoso ke Istana Negara, Senin lalu (8/6). (pit)