Reza mengatakan setiap individu atau anak punya toleransi berbeda terhadap stres dan trauma, termasuk Angeline yang sebelum tewas diketahui mengalami berbagai penganiayaan dari orang-orang terdekatnya.
Pilihan Redaksi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi tersebut, kata Reza, menjadi tambah rumit jika yang menderita adalah anak-anak. “Secara fisik, lemah. Secara psikis, mudah diintimidasi,” tuturnya. (Baca: KPAI: Angeline Tidak Nyaman di Rumah)
Ironisnya, tambah Reza, sangat banyak anak-anak yang mengalami hal serupa berupa penganiayaan termasuk kekerasan seksual seperti yang dialami Angeline. “Fenomena gunung es,” ucap Reza. (Baca: Kasus Angeline, DPR Usul Sistem Pengamanan Anak yang Lengkap)
Adapun terkait kemungkinan tewasnya Angeline dilatarbelakangi oleh masalah warisan, Reza sejauh ini tidak melihat dugaan tersebut. “Saya meyakini tidak. Kalau untuk menghilangkan nyawa Angeline untuk ada perlu dibunuh, (Angeline) untuk mengerti soal warisan saja tidak, bocah seperti itu,” kata Reza. (Baca: Soal Warisan dalam Kematian Angeline sedang Didalami)
Ayah angkat Angeline meninggal tiga tahun lalu, yang merupakan seorang bule berkewarganegaraan Amerika. Mendiang meninggalkan seorang istri yaitu Margriet Megawe dan dua anak kandung, yang salah satunya tinggal di Amerika. (obs)