Liputan Khusus Ultah Jakarta

Hutan Jati dan Pertempuran di Jatinegara Jakarta

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 14:29 WIB
Hutan Jati dan Pertempuran di Jatinegara Jakarta Stasiun Jatinegara, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- 28 Mei 1619. Gubernur Jenderal VOC bernama Jan Pieterszoon Coen bersandar di Teluk Jayakarta. Coen datang untuk menguasai daerah yang dikuasai Kesultanan Banten itu. Bersama Coen, dibonceng sejumlah pasukan kongsi dagang Belanda, menumpang 18 kapal angkut dari pengasingan mereka di Maluku.

Tak sampai dua hari, Pangeran Jayawikarta alias Wijayakarta terpaksa kabur dari Jayakarta. Kawasan yang dikuasainya itu jatuh ke tangan VOC. Cucu Raden Tubagus Angke itu pun berlindung di hutan jati lebat yang berada di tenggara Jayakarta.

Jayawikarta lantas menamai tempat pelariannya itu dengan sebutan Jatinegara. Dalam buku Ensiklopedi Jakarta: Budaya dan Warisan Sejarah disebutkan, Jatinegara memiliki arti pemerintahan yang sejati. (Ikuti Fokus: Selamat Ulang Tahun Jakarta!)


Kronik hutan jati di tenggara Jayakarta itu tidak berhenti pada di kisah Jayawikarta. Sejarawan Adolf Heuken dalam bukunya Gereja-gereja Tua di Jakarta menyatakan, sosok yang memantik lahirnya kawasan baru di sekitar hutan jati di tenggara Batavia itu sebenarnya adalah seorang padri.

Menurutnya, dua tahun usai VOC mengganti Jayakarta menjadi Batavia, mendaratlah seorang misionaris dari Pulau Lontar, Kepulauan Banda. Guru agama itu bernama Cornelis Senen.

“Senen adalah anak orang kaya dari Pulau Lontar. Pada tahun 1621 dia diasingkan ke Batavia,” tulis Adolf.

Dalam buku Ensiklopedi Jakarta tertulis, VOC menghibahkan sebidang kebun yang sangat luas di tepi Kali Ciliwung pada tahun 1656 kepada Cornelis. Luas lahan tersebut kurang lebih lima kilometer persegi. Bukan hanya menghibahkan gedung, VOC juga memberikan gelar meester pada Cornelis. (Baca juga: Menteng: Sebuah Cerita soal Ujung Jakarta)

Belakangan, sejarah memang mengenal sosok Cornelis sebagai tuan tanah. Adolf tak menampik fakta tersebut. Ia memaparkan, Cornelis memang memanfaatkan hutan jati itu untuk bisnis kayu.

“Di sana dia menyuruh orang menebang pohon, untuk kemudian dihanyutkan lewat Ciliwung ke Kota untuk digunakan sebagai bahan membangun rumah dan perkapalan,” kata Adolf.

Tahun 1635, Cornelis membuka sekolah di Batavia (kini Kota Tua). Di sekolah itu Cornelis memimpin doa dan membaca khotbah iman Krisitani dalam bahasa Melayu. Tak hanya menjadi guru agama, Cornelis juga menjabat sebagai wijkmeester alias kepala penampungan budak asal Banda di luar Batavia (kini dikenal sebagai Kampung Bandan).  (Baca juga: Buah Karya 'Pajak Lendir' Era Bang Ali Pimpin Jakarta)

Adolf menuturkan, sepuluh tahun berkarya sebagai guru agama, Cornelis diangkat menjadi calon pendeta. Sayang, setahun usai dihadiahi lahan di tepi Sungai Ciliwung, para pendeta tidak bersedia menerima Cornelis menjadi anggota Dewan Gereja pada tahun 1657.
Kawasan Jatinegara, Jakarta, saat ini. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Cornelis menghembuskan nafas terakhirnya tahun 1662. Kematian Cornelis menjadi penanda pengaruhnya yang kuat atas kawasan di tenggara Batavia. VOC dan masyarakat Batavia kala itu mengucapkan nama Meester Cornelis untuk merujuk kawasan yang kini lebih terkenal dengan sebutan Jatinegara.

Jatinegara dan Rawa Bangke


Kronik Jatinegara berlanjut. Awal abad ke-18, VOC mulai mengembangkan kawasan yang dikuasai Meester Cornelis. Jalan dari pusat kota dibangun, pemukiman pun bermunculan. Tahun 1706, muncul Pasar Kamis.

Tahun 1743, Gubernur Jenderal Baron van Imhoff membangun sebuah benteng pertahanan yang pagarnya bersudut tujuh. Pengembangan Meester Cornelis menjadi wilayah pertahanan dilanjutkan Gubernur Herman Willem Daendels hingga ia membuka sekolah artileri di sana pada tahun 1805.  (Baca juga: Jilakeng, Benih Pelacuran di Jantung Batavia)

Aneksasi Perancis terhadap Belanda pada era Napoleon Bonaperte mau tak mau mendorong Daendels menjadikan Meester Cornelis sebagai jantung pertahanan. Pria yang sempat menjadi orang kepercayaan Napoleon itu memprediksi, Inggris sebagai musuh bebuyutan Napoleon akan segera menyerang Batavia.

Peter Carey dalam desertasinya yang kemudian dibukukan dengan judul Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro menulis, pada tanggal 3 Agustus 1811 pasukan Inggris dalam jumlah masif mendarat di Cilincing, Batavia. Pasukan itu yang diangkut 81 kapal itu dipimpin Jenderal Samuel Auchmuty.

Setelah pasukan Inggris merebut Kota pada tanggal 8 Agustus, tentara pemerintah kolonial Perancis-Belanda yang dipimpin Gubernur Jenderal Jan Willems Janssens bertahan di benteng berkubu yang dibangun di Meester Cornelis.   (Baca juga: Napak Tilas Bisnis Pelacuran Jakarta) 

Namun benteng yang dibangun tersebut tak mampu menahan gempuran tentara Inggris. Pada 26 Agustus 1811, daerah Meester Cornelis jatuh ke tangan Inggris setelah melalui pertempuran hebat. Carey menyebut, 500 tentara Inggris meregang nyawa. Sementara itu, 50 persen serdadu asal Eropa dan Maluku yang dibayar pemerintahan Perancis-Belanda tewas. Begitu juga 80 persen tentara bantuan yang mereka datangkan dari Jawa dan Madura. Tak Cuma itu, benteng Belanda pun luluh lantak.
Kawasan atinegara, Jakarta. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Pertempuran itu kemudian diabadikan menjadi nama daerah di sekitar Jatinegara. Carey menyatakan, kawasan itu adalah Rawa Bangke, tempat untuk menguburkan korban tewas pertempuran di Cornelis dengan cara menumpuknya di rawa-rawa.

Soal munculnya sebutan Rawa Bangke, Ensikopedi Jakarta mempunyai kisah berbeda. Buku yang disusun Dinas Komunikasi, Informatik dan Kehumasan Provinsi DKI Jakarta itu mencatat, sebutan Rawa Bangke berkaitan erat dengan peristiwa pembantaian warga etnis Tionghoa di Batavia pada tahun 1740.

Ensiklopedi itu menyebutkan, tidak sedikit mayat warga etnis Tionghoa dibuang begitu saja di sebuah rawa di kawasan Meester Cornelis. Tak cuma dilatarbelakangi peristiwa itu, kerap ditemukannya korban pembunuhan di kawasan itu juga memunculkan istilah tenar, Rawa Bangke.   (Baca juga: Rayuan Keroncong Jembatan Batu di Macao Po)

Wartawan senior Alwi Shahab mengatakan, selepas era kemerdekaan Presiden Sukarno lebih memilih sebutan Meester Cornelis menjadi Jatinegara. Alwi berkata, hal itu dilakukan Sukarno sebagai bagian dari rencananya menghapus sisa-sisa penjajahan Belanda di Indonesia.

“Bung Karno tidak senang dengan nama-nama Belanda,” ujar Alwi kepada CNN Indonesia pertengahan Juni lalu. Alwi menuturkan, pemilihan nama Jatinegara sebenarnya sudah terjadi di jaman pendudukan Jepang.

Jatinegara dinyatakan berdiri sebagai kelurahan tersendiri pada tahun 1966. Yang tersisa dari sejarah panjang lahirnya kehidupan di kawasan ini adalah rumah berarsitektur khas kolonial di seberang Stasiun Jatinegara.

Rumah itu pernah digunakan untuk markas Komando Distrik Militer 0505 Jakarta Timur. Sempat dijadikan markas organisasi paramiliter Pemuda Panca Marga, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta akhirnya mengambil alih rumah Meester Cornelis.

Tahun 2010, Pemprov DKI Jakarta menjanjikan pemugaran. Mereka menargetkan, rumah Meester Cornelis dapat difungsikan menjadi Gedung Kesenian Betawi pada tahun 2012. (sip)