Tjahjo menekankan kementerian akan mengirim radiogram ke daerah untuk mempercepat proses tender dan proses lelang. "Hal tersebut semata-mata dilakukan agar pertumbuhan ekonomi di daerah berjalan," kata Tjahjo saat ditemui di kompleks DPR RI, Kamis (25/6) siang.
Nantinya, lanjut Tjahjo, akan ada catatan pusat yang diberikan kepada daerah jika nantinya penyerapan tetap minim. "Bisa saja dalam persetujuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah akan ditinjau kembali atau bahkan dikurangi." (Baca juga: Ekonomi Melambat, Jokowi Minta Belanja Modal Dipercepat)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja, DKI Jakarta mendapat sorotan lantaran penyerapannya baru menyentuh angka 10 persen bertepatan dengan perayaan ulang tahun ke-488. Sementara untuk provinsi yang lain pun, menurut Tjahjo, angkanya tidak jauh berbeda.
Arahan dari Jokowi, ujar Tjahjo, adalah penyerapan bisa dimulai dari sekarang, terutama yang menyangkut masalah barang, jasa, dan fisik. Itu semua dilakukan agar pada November 2015 bisa selesai dan ada waktu untuk menyusun laporannya. (Baca juga: Lulung Sebut Kisruh APBD hanya Ajang Pencitraan Ahok)
Sebelumnya, Tjahjo telah mengungkapkan rendahnya serapan APBD 2015 DKI Jakarta saat dirinya menghadiri Rapat Paripurna Istimewa peringatan hari ulang tahun ke-488 Kota Jakarta. Tjahjo mengatakan bahwa serapan APBD 2015 DKI Jakarta masih berkisar di angka 10 persen sampai Juni ini.
"Memang, permasalahan di Jakarta sangat kompleks. Tenaga di bawah lebih suka misalnya menyewa truk sampah yang seharga Rp 400 miliar daripada membeli. Antara merenovasi dengan membangun SD, lebih mahal renovasinya. Itulah yang saya pikir membuat Gubernur hati-hati dalam membelanjakan anggaran," ujar Tjahjo di Gedung DPRD DKI Jakarta.
Ucapan Tjahjo pun membuat Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengancam akan memecat para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang lamban dalam memakai anggaran APBD 2015 DKI Jakarta.
Ahok mengatakan bahwa pemakaian anggaran seharusnya dapat dilakukan secara maksimal karena fokus Pemprov DKI Jakarta tahun ini adalah membeli lahan sebanyak-banyaknya di Jakarta.
"Padahal pembelian tanah itu tidak ada masalah. Kalau ada masalah, tinggal panggil asisten pembangunan. Makanya, nanti kami banyak staf-kan pegawai yang tidak beres," ujar Ahok di Balai Kota DKI Jakarta, Senin malam lalu. (sip)