Ester Yosepine Sihombing dan Rita Yunita Sihombing menjadi korban tewas pesawat nahas tersebut. Kakak beradik yang masing-masing berusia 18 dan 14 tahun itu menjadi dua di antara 100 lebih penumpang sipil yang menjadi korban.
Dengan terus menahan tangis Sahata menceritakan kisah duka yang dialaminya saat ditemui CNN Indonesia di samping ruang jenazah Rumah Sakit Adam Malik Medan, Rabu siang (1/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sahata mengatakan keluarganya kadang naik pesawat komersial kadang menumpang Hercules. Kalau naik Hercules memang jaraknya ke bandara lebih dekat namun untuk mengurus surat izin jalannya butuh waktu yang tidak sedikit. "Mengurus suratnya ke Polresta dan ke lanud dulu," ujar dia.
Ayah dua orang anak ini berencana membawa jenazah buah hatinya itu ke Sidikalang, Dairi, Sumut. "Saya terakhir bertemu dengan mereka tanggal 23 Mei lalu di Medan, ternyata itu lah pertemua terakhir saya dengan mereka," kata Sahata sembari terisak.
Dengan mata menatap ke arah ruang jenazah, Sahata menuturkan sebelum musibah ini terjadi istrinya terlihat merasa sangat gelisah. "Malam hari ini ibunya anak-anak tidak bisa tidur," tutur dia. (Baca: 147 Kantong Jenazah Korban Hercules Diterima RS Adam Malik)
Selain Sahata, di seputaran areal ruang jenazah RS Adam Malik juga terlihat para keluarga korban Hercules yang tampak sangat terpukul. Air mata mereka tampak terus membasahi wajah-wajah yang penuh duka.
(obs/obs)