"Kami punya semuanya 22 ya. Tadi angkatan 1960-an ada enam, angkatan 1980-an itu ada delapan. Sisanya angkatan 1978," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iapun berencana untuk mengistirahatkan dulu pesawat Hercules lain dengan tahun terbitan yang sama untuk dievaluasi secara lebih detail.
Ketika ditanya soal batas kelayakan pesawat, Moeldoko mengatakan ukuran kelayakan pesawat tidak hanya dilihat dari usia pesawat saja, melainkan juga dilihat dari bagaimana evaluasi tiap harinya. (Baca Juga: Alutsista Kuno Tak Layak Pakai Akan Dikandangkan)
"Di sini juga dilihat kerangkanya, masih bagus atau tidak, bagaimana dengan mesinnya, bagaimana dengan yang lain-lain," ujar dia.
Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto memperkirakan penyebab jatuhnya Hercules C-130 A-1310 di Medan, Selasa (30/6) lalu, disebabkan oleh gangguan salah satu bagian mesin pesawat. Perkiraan tersebut didukung juga dari laporan sang pilot kepada petugas Landasan Udara Suwondo sebelum akhirnya terjadi kecelakaan tersebut.
"Jadi diperkirakan itu ada masalah di mesin nomer empat. Kalo Hercules mesinnya ada empat, itu paling kanan, paling luar. Secara teori itu bisa diperbaiki," ujar Dwi di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (2/7).
Dwi mengatakan bahwa selain kerusakan mesin, TNI AU sejauh ini juga memperkirakan bahwa kondisi sekitar bandara yang tidak sesuai aturan menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan Hercules C-130 saat itu.
"Lingkungan bandara dibangun semaunya. Kalo seandainya di sana tidak ada antena menurut penerbang bisa terselamatkan," ujarnya. (utd)