Soal pesangon bagi pekerja yang dipecat ini tak ada dalam regulasi sebelumnya yang hanya mengatur pencairan dana dapat dilakukan setelah lima tahun masa kerja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menilai iuran Jaminan Hari Tua yang ideal adalah 10 persen, dengan rincian lima persen ditanggung perusahaan, dan lima persen lainnya ditanggung pekerja. Namun iuran yang diterapkan saat ini hanya 5,7 persen, dengan rincian 3,7 persen ditanggung perusahaan, dan 2 persen ditanggung pekerja.
Selain mengatur soal pesangon, aturan baru Jaminan Hari Tua juga mengubah waktu pencairan dana bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Kini karyawan baru dapat mengambil dana sebesar 10 persen dari total saldo setelah 10 tahun masa kerja, bukan lima tahun seperti sebelumnya. Inilah yang menuai protes keras dari masyarakat. (Baca: DPR Sebut Aturan Baru BPJS Ketenagakerjaan Tak Pro-Buruh)
Sementara sisa saldo bisa diambil setelah pekerja tak lagi produktif, yakni saat berusia 56 tahun. Di luar itu, dana JHT bisa diambil 30 persen untuk uang muka perumahan jika pekerja hendak membeli rumah.
Hanif menegaskan, aturan baru Jaminan Hari Tua murni untuk mengembalikan fungsi JHT sebagai skema perlindungan hari tua saat pekerja tak lagi produktif.
“JHT selama ini dikesankan seolah-olah seperti tabungan biasa. Kalau peserta di-PHK lalu dana JHT bisa dicairkan semua, itu keluar dari spirit perlindungan masa tua,” kata menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa itu.
Hanif menyatakan peserta BPJS Ketenagakerjaan sesungguhnya tak perlu khawatir, sebab skema jaminan sosial saat ini telah menutupi seluruh risiko pekerja, terdiri dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), dan Jaminan Kematian (JKM). (agk)