Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Indonesia berada di jalur subsduksi yang merupakan pertemuan-pertemuan lempeng bumi yang bergerak aktif setiap tahunnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau setiap hari gempa, ya wajar. Asal jangan terlalu besar intensitasnya," kata Sutopo di Jakarta, Selasa (28/7).
"Ada sesar Sumatera, Lembang, Sesar Yapen, dan banyak sesar yang bergerak aktif juga. Tapi tidak seaktif lempeng," ujar Sutopo. Ada juga Sesar Opak, Sesar Cimandiri, Sesar Palu, dan masih banyak lagi.
Sebelumnya, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Mateorologi Klimatologi dan Geofisiki Mochammad Riyadi juga mengatakan tidak ada indikasi akan terjadi gempa yang besar akibat gempa-gempa yang terjadi belakangan.
"Indonesia memang jalur gempa khususnya di Sumatera, mulai dari sebalah Barat Sumatera, di tengah Sumatera juga sampai ke Jawa memang daerah gempa. Jadi tidak mengherankan," kata Riyadi kepada CNN Indonesia. (Baca juga: Setelah Yogya, Kini Jawa Timur Digoncang Gempa 6,3 SR)
Lebih lanjut, Riyadi menjelaskan, gempa-gempa yang sempat menerjang Sumatera Barat, Ciamis, Yogyakarta, Jawa Timur, Nias, dan pagi tadi melanda Papua, tidak ada hubungannya satu sama lain.
"Tidak ada. Ini aktivitas gempa yang biasa. Tidak ada kaitannya dengan yang lainnya," ujar Riyadi.
Untuk mencegah banyaknya korban jiwa yang berjatuhan akibat aktivitas tahunan tersebut, BNPB menganjurkan agar penataan ruang pada daerah rawan diperhatikan dengan benar. Sebab, bukan gempa yang menyebabkan korban tapi kualitas bangunan yang tak tahan guncangan gempa dan mudah runtuhlah yang menyebabkan korban jiwa berjatuhan. (sur)