"Pansel sudah melakukan berbagai hal untuk mengajak putra-putri bangsa untuk masuk calon komisioner, kami sudah keliling ke berbagai tempat," ujar Agus di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta Pusat, Jumat (28/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia harus berani melakukan apapun dalam investigasi, rekomendasi, dan memastikan rekomendasi itu dijalankan. Kalau tidak dijalankan, dia berani mendorong siapapun yang menerima (untuk menjalankan)," kata dia.
"Kami akan coba dorong para aktivis yang peduli pada perbaikan wajah pelayanan publik untuk mendaftar. Saya kira nanti ada beberapa yang dilakukan, mendekati yang layak mendaftar," kata dia.
Agus menuturkan, Pansel juga akan melakukan wawancara dan pelacakan rekam jejak untuk memastikan bahwa mereka yang terpilih nantinya memiliki integritas yang memadai serta rekam jejak yang baik.
Sepakat dengan Agus, Zumrotin menyampaikan, setelah calon komisioner ORI lulus tes obyektif, maka akan maju ke tahap selanjutnya, yakni pelacakan rekam jejak dan tes kesehatan. Pelacakan rekam jejak ini, kata dia, akan dilakukan melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), kepolisian, kejaksaan, dan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
"Jadi hampir sama tracking (calon pimpinan) KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetap saja soal PPATK tidak akan kami tinggalkan. Langkah-langkahnya tidak terlalu berbeda," kata Zumrotin.
Sejauh ini jumlah pendaftar sudah mencapai 163 orang yang datang dari berbagai daerah dan bermacam latar belakang profesi. Namun meski sudah 163 orang pendaftar, Pansel merasa harus memperpanjang waktu pendaftaran selama sepekan. Pendaftaran semestinya ditutup kemarin, namun Pansel memperpanjang hingga Kamis (3/9) depan.