Johny yang disebut-sebut sebagai salah satu orang kepercayaan Luhut, memiliki karier panjang di dunia militer seperti halnya Luhut. Pria kelahiran Minahasa, Sulawesi Utara, 68 tahun silam itu lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Angkatan 1970.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai bertugas di Operasi Rajawali, Johny dipercaya memimpin pembebasan 14 karyawan PT Jayanti di Timika, Papua, yang disandera Gerakan Pengacau Keamanan. Tugas itu berhasil ia rampungkan dalam waktu sebulan, meski dua sandera tewas.
Sepanjang karier militernya, nasib Johny beberapa kali bertaut dengan Prabowo Subianto. Tak lama usai kejatuhan Soeharto, ia diminta menjabat Panglima Kostrad menggantikan Prabowo –justru di saat karier militer Prabowo sedang berada di puncak.
Akhir Oktober 1998, Johny kembali diminta menggantikan Prabowo sebagai Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI.
Keberuntungan Johny tak berhenti di situ. Pada Januari 1999, ia dipercaya menjabat Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Selanjutnya ia pun menjabat Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional dan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (kini Kementerian Pertahanan).
Pagi ini, Rabu (2/9), Johny santer disebut lingkaran Istana bakal menggantikan posisi Luhut Pandjaitan sebagai Kepala Staf Presiden. Meski demikian, Johny mengatakan kepada Detikcom saat ini masih berada di Manila, Filipina. Pelantikan Kepala Staf Presiden akan digelar di Istana Negara pukul 09.00 WIB. (agk)