Kemarin, Indeks Standar Pencemaran Udara di Riau sudah di atas level berbahaya, menyentuh angka 984 psi (polutan standar indeks), membuat pemerintah menetapkan status darurat asap di provinsi itu. (Baca: Riau Darurat Asap, Indeks Pencemaran di Atas Level Berbahaya)
Angka 984 psi itu jauh di atas level tertinggi ISPU, yakni berbahaya, yang hanya sampai 500 psi. Pada level berbahaya saja, kualitas udara menyebabkan gangguan kesehatan serius seperti iritasi mata, batuk, dahak, dan sakit tenggorokan. Apalagi di atas level berbahaya. Dapat dibayangkan penderitaan warga Riau saat ini. (Baca: Kabut Asap di Riau Masuk Ruang Perawatan RS)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mulyani mengatakan kabut asap hilang dan timbul hampir setiap tahun di Riau, namun tak pernah benar-benar pergi. “Sudah terlalu banyak dampak asap ini terhadap kehidupan kami," kata Mulyani. (Baca selengkapnya: Ibu di Riau Khawatir Janinnya Tercekik Asap)
Pada tahun 2013, ISPU di Riau berada di atas level berbahaya seperti yang terjadi tahun ini. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, ISPU di beberapa wilayah di Riau saat itu tembus angka seribu, tepatnya 1.084 psi. Pemerintah Provinsi Riau pun ketika itu menerapkan status tanggap darurat bencana asap.
Kabut asap melanda Riau tiap tahun karena kebakaran hutan yang terjadi di provinsi itu, juga karena 'kiriman' asap kebakaran hutan provinsi-provinsi tetangga seperti Jambi dan Sumatera Selatan yang terbawa angin hingga ke Riau.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah saat ini mengupayakan pemadaman titik-titik api dengan menggunakan teknik bom air dari pesawat maupun merekayasa cuaca dengan membikin hujan buatan.
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar kemarin mengerahkan 20 pesawat water bombing (pengeboman air) dan cloud seeding (pembentukan awan hujan) untuk memadamkan kebakaran hutan di Sumatera.
Sebanyak 18 juta liter air ditumpahkan di Riau, dan 12 juta liter air disiramkan ke Sumatera Selatan. Sementara untuk membikin hujan buatan, 120 tom garam telah ditaburkan di Riau, dan 56 ton garam di Sumatera Selatan dan Jambi.
Selain upaya pemadaman api dari udara, pemerintah juga mengerahkan 1.050 prajurit TNI untuk membantu pemadaman di darat. (sur/agk)