"Operasi udara ini adalah yang terbesar dibandingkan tahun 2014 dalam mengatasi karhutla. Pada 2014, operasi udara didukung 12 heli dan 3 pesawat hujan buatan," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulisnya kepada media, Senin (28/9). (Lihat Juga: Kebakaran Hutan Berpotensi Meningkat Hingga Akhir November)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain pengerahan heli dan pesawat, penanganan kabut asap dari karhutla juga dilakukan dari darat. Sutopo mengatakan, BNPB telah membentuk tim gabungan terdiri dari Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Kepolisian RI, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan lainnya yang berjumlah 20.837 personel.
Selain itu, Sutopo juga menyampaikan, Polri dari satuan Brigade Mobil dan Penyidik dari pusat juga mengerahkan 770 personilnya untuk mempercepat proses hukum terhadap pelaku dan perusahaan yang bertanggungjawab atas karhutla ini.
Sebelumnya, Kepala Staf Presiden Teten Masduki tak heran apabila negara-negara tetangga Indonesia marah akibat asap kebakaran hutan RI. Meski demikian, Teten tak mau Indonesia sepenuhnya disalahkan atas bencana kabut asap yang menyebar ke Singapura dan Malaysia itu.
“Asap kebakaran lahan sangat meluas, tapi Singapura harus memahami kesulitan kita untuk memadamkannya karena ini bukan satu hal yang sederhana,” kata Teten di Jakarta, Senin (28/9).
Menteri Luar Negeri Singapura menyebut Indonesia tak memikirkan keselamatan warga Singapura maupun warga Indonesia sendiri soal bencana kabut asap yang menyelimuti Sumatera dan Kalimantan.
Pernyataan pedas Singapura itu keluar setelah Jumat kemarin Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di negeri itu mencapai rekor tertinggi sepanjang tahun ini, yakni 341. Padahal dua pekan lalu, saat Singapura mulai menunjukkan kejengkelannya saat ISPU di sana berada di angka 211. (utd)