Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU Rumadi Ahmad mengatakan bahwa tren yang terjadi saat ini adalah peristiwa-peristiwa semacam itu terjadi berdekatan dengan hari raya keagamaan.
Lihat juga:Dua Rumah Ibadah Terbakar di Aceh Singkil |
Seperti diketahui besok Rabu (14/10) umat Muslim akan merayakan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1437 Hijriah. Peristiwa di Aceh Singkil terjadi hanya satu hari sebelum perayaan tersebut dilakukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Empat bulan lalu di ujung timur (Papua), sekarang terjadi di ujung barat (Aceh). Dari dua peristiwa ini mulai terlihat hari besar keagamaaan dimanfaatkan dengan model seperti ini," ujarnya.
"Tapi karena ada virus intoleran maka masalah seperti ini bisa terjadi. Jika tidak bisa diatasi mungkin saja kejadian yang sama terjadi di tempat lain," kata Rumadi.
Sementara itu menurut keterangan Persekutuan Gereja-Gereja, pada Selasa (6/10) massa dari Pemuda Peduli Islam (PPI) menggelar unjuk rasa dan mendesak pemerintah daerah untuk segera membongkar gereja yang tidak memiliki izin.
Saat itu, PPI memberikan batas waktu hingga hari ini untuk membongkar dan jika tidak dipenuhi maka mereka akan melakukan pembongkaran sendiri.
Lihat juga:Polisi Kejar Pelaku Kerusuhan Aceh Singkil |
"Setidaknya ada dua gereja yang dibakar massa, yaitu HKI dan satu gereja Katolik. Bahkan tindakan intoleran tersebut telah menimbulkan korban meninggal," ujar Ketua PGI Henriette Hutabarat-Lebang.
Sebelumnya, kerusuhan terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, pada Selasa (13/10). Sekelompok massa dengan membawa senjata tajam mendatangi salah satu gereja dan melakukan pembakaran. Aparat keamanan disebut kesulitan mengatasi aksi massa.
Menurut keterangan pendeta Erde di Singkil, yang merupakan kepala Gereja di HKI Gunung Meria, sekitar pukul 11.00 WIB sekitar 700 orang mendatangi salah satu gereja lalu membakar.
“Polisi tak bisa berbuat apa-apa selain meminta jemaat untuk pergi,” ujar pendeta Erde. (utd)