Juru Bicara Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI) Hendri Satrio memperkirakan, pergantian menteri Kabinet Kerja, tidak dapat dihindari. Ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi-JK, khususnya di bidang ekonomi menjadi salah satu alasannya.
"Ada beberapa menteri terkait, yang disoroti karena harga bahan pokok, rupiah, kabut asap, serta bahan bakar minyak (BBM)," ujar Hendri dalam diskusi bertema "Setahun Jokowi-JK, Sudah Sampai Mana" di Jakarta, Minggu (18/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan adanya PAN sekarang, masyarakat menebak akan melengserkan NasDem, tapi bisa juga dari professional," kata Hendri.
"Seolah-olah kalau PAN masuk pemerintahan, ekonomi akan membaik," ujarnya.
"Saya kira lebih dari 50 persen di sektor yang memproduksi uang, seperti, pertanian, energi sumber daya mineral, industri dan perdagangan, ya ekonomi lah. Politik dan keamanan tidak terlalu masalah," ujar Adhie.
Adhie melihat, saat ini persoalan terletak pada menteri-menteri kabinet kerja yang masih terikat dengan kepentingan di luar pemerintahan, sejak proses pemilihan presiden lalu. Ia pun berujar bahwa Presiden belum bisa menetralisir kepentingan tersebut, dan berharap di tahun kedua pemerintahan, persoalan itu dapat diatasi.
"Tahun kedua harus bisa diselesaikan, dengan memegang Menteri Koordinator yang benar, melalui peraturan Keputusan Presiden. Sehingga, Menko bukan hanya melaksanakan fungsi koordinator, tapi juga memegang teknis," kata Adhie.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kepala Staf Kepresidenan Eko Susilo mengatakan, persoalan yang terjadi pada menteri-menteri di awal berjalannya kabinet, merupakan bentuk proses konsolidasi visi nawacita dan trisakti Presiden Joko Widodo.
Sebelumnya, Kedai KOPI telah melakukan survei setahun pemerintahan Jokowi Jusuf Kalla. Hasil survei menunjukan masyarakat masih tidak puas dengan kinerja Jokowi-JK.
Dalam survei tersebut, menunjukan ketidakpuasan masyarakat di bidang ekonomi sebanyak 71,9 persen. Sedangkan di bidang politik dan hukum, tingkat persentase ketidakpuasan masyarakat cukup tinggi di angka 50 persen. (sur)