BNPT: Jaringan Teroris Santoso Tidak Boleh Dianggap Remeh
Yohannie Linggasari | CNN Indonesia
Selasa, 01 Des 2015 16:48 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) BNPT Irjen Pol. Arief Dharmawan berpendapat jaringan teroris Santoso tidak boleh dianggap remeh. Apalagi, setelah terjadi penembakan oleh jaringan tersebut terhadap satu serdadu Tentara Nasional Indonesia (TNI).
"Meski mereka kecil, tetapi jangan dinggap remeh. Jangan dianggap tidak ada apa-apanya. Mereka itu militan," kata Arief saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (1/12).
Arief menilai medan yang sulit menjadi salah satu hambatan untuk menangkap jaringan teroris Santoso. Belum lagi, katanya, peralatan yang dimiliki aparat penegak hukum masih minim.
"BNPT melakukan dua pendekatan dalam menghadapi teroris. Pertama, peningkatan kapasitas intelijen dan pembinaan. Kedua, kami coba koordinasikan aparat penegak hukum supaya perjalanan kasus berjalan apa adanya tanpa ada ketakutan," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang anggota satuan Batalyon Infanteri 712/ Wiratama, Manado, Sersan Kepala Zainuddin, tewas ditembak orang tidak dikenal yang diduga bagian dari jaringan kelompok teroris Santoso alias Abu Warda, Minggu (29/11).
Kepala Penerangan Komando Daerah Militer VII Wirabuana, Kolonel CZI I Made Sutia, mengatakan peristiwa tewasnya Zainuddin terjadi pada operasi Camar Maleo IV di Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso.
Saat menjalankan proses visum et repertum, dokter menemukan luka tembak pada punggung atas kanan (skavula) jenazah. Proyektil tersebut kini masih bersarang di dalam tubuh jenazah. (bag)
"Meski mereka kecil, tetapi jangan dinggap remeh. Jangan dianggap tidak ada apa-apanya. Mereka itu militan," kata Arief saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (1/12).
Arief menilai medan yang sulit menjadi salah satu hambatan untuk menangkap jaringan teroris Santoso. Belum lagi, katanya, peralatan yang dimiliki aparat penegak hukum masih minim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat menjalankan proses visum et repertum, dokter menemukan luka tembak pada punggung atas kanan (skavula) jenazah. Proyektil tersebut kini masih bersarang di dalam tubuh jenazah. (bag)