TNI, kata Dwi, telah lama mengkaji kebutuhan militer armada udaranya. Menurutnya, AgustaWestland pun tidak terlibat kasus penyuapan di India.
"Saya punya datanya. Itu tidak betul," kata Dwi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (2/12). (Simak Fokus: HELIKOPTER UNTUK PRESIDEN)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal pekan ini, situs bisnis India, Business Standard, melaporkan bahwa Biro Pusat Investigasi India telah berhasil melacak keberadaan tokoh yang dituding menjadi kunci dalam kasus suap pengadaan AW101. Dia adalah Christian Michel.
"Siapa bilang (Michel) buron? Sudahlah, kita enggak ada kaitan soal itu dengan India. Bantulah TNI AU untuk memiliki pesawat itu," kata Dwi.
Dwi menuturkan, TNI AU sudah mengkaji kebutuhannya dan yakin AW101 sesuai dengan kebutuhan tersebut.
"Kami sudah kaji. Siapa yang buat ini sudah kami kaji. Kami tidak ada kontak dengan India dan segala macam. Kami langsung ke sana (AgustaWestland). Pesawat yang memenuhi spek yang kami inginkan hanyalah itu (AW101)," ujar Dwi.
Menurut Dwi, TNI AU telah memesan sembilan unit helikopter AW101 hingga tahun 2019. Satu di antaranya akan datang tahun depan.
"Kalau jadi ini ya, tahun depan sudah datang satu," kata Dwi.
"Kalau beli helikopter, harus lihat baling-balingnya. Karena jika helikopter digunakan untuk ke daerah-daerah bencana, terutama di perkampungan, bayangkan kalau baling-balingnya besar, bisa terbang semua (benda-benda). Nah, dari situ terlihat yang baling-balingnya paling kecil dan halus AW101," ujar Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna.
Agus mengatakan pilihan atas AW101 merupakan hasil kajian internal TNI AU. “Kajian dari skuadron VVIP, lalu diteruskan dikaji di Markas Besar TNI. Akhirnya saya putuskan beli AW101 untuk memenuhi rencana strategi 2014-2019. Kami mencari yang terbaik,” ujar dia.